foto

TEMPO/Arie Basuki

Tahun Ini, Petambak Ditargetkan Pakai Pakan Organik

TEMPO Interaktif, Makassar - Tahun ini Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Selatan menargetkan semua perikanan tambak dan udang di Sulawesi Selatan akan menggunakan pakan organik. Selain dinilai mampu menghemat pengeluaran petani tambak, pupuk organik juga membuat pertumbuhan ikan dan udang lebih baik karena bahannya alami, ketimbang menggunakan pupuk kimia. 


Kepala Bidang Perikanan Budidaya Sulkaf S. Latief mengatakan, himbauan untuk menggunakan pupuk organik ini juga untuk lebih memacu nilai ekspor ikan dan udang. “Sekarang permintaan konsumen di luar negeri, untuk komoditas ekspor harus bebas pestisida dan bahan kimia lainnya,” kata dia, Senin (9/5/2011). Untuk itu, Dinas Kelautan membuat program Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) dan Cara Perbenihan Ikan yang Baik (CPIB).

Imbauan yang dikeluarkan oleh Dinas Kelautan ini juga merujuk kepada Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 2/men/2007 tentang Monitoring Residu Obat, Bahan Kimia, Bahan Biologi dan Kontaminan pada Pembudidayaan Ikan. Sulkaf mengatakan, peraturan ini dibuat karena melihat dampak yang kemungkinan bisa ditimbulkan oleh makanan yang berbahan kimia. “Ikan yang terlalu banyak menggunakan residu pestisida tidak baik untuk dikonsumsi terlalu banyak,” katanya. Sulkaf mengatakan, saat ini para konsumen dari luar negeri menolak ikan dan udang yang mengandung residu bahan kimia. 

Pemberian pakan alami oleh para petambak ini, lanjutnya, diusahakan oleh mereka sendiri. Para petambak, misalnya, bisa membuat pakan dengan bahan dasar pupuk kandang. Saat ini, pupuk organik itu juga sudah diperjualbelikan. “Tinggal bagaimana mengubah kebiasaan petambak, bagaimana beralih dari pupuk kimia ke pupuk organik,” tutur Sulkaf. 

Dalam program CBIB dan CPIB, Dinas Kelautan mengerahkan sejumlah tenaga penyuluh dan pembina untuk turun langsung ke lapangan melihat proses pembudidayaan ikan tambak. Dinas Kelautan hanya memberikan penyuluhan dan pembinaan. Untuk kegiatan ini, khususnya untuk penggunaan pakan organik, Dinas Kelautan menyiapkan anggaran sekitar RP 200 juta dari total anggaran pembinaan dan pemberdayaan petambak yang sebesar Rp 3,8 miliar.

Ketua Inkubator Mina Bisnis Torani Nusantara yang juga membina para petambak tambak, Tjajuddin Manja, mengatakan, para petambak masih kesulitan memperoleh pakan organik. Selama ini, para petambak biasanya menggunakan kotoran ayam atau kotoran kerbau yang telah dikeringkan dan dicampur dengan zat kapur. “Namun karena sulitnya mendapatkan pupuk organik, petambak biasanya bersikap masa bodoh dan memilih pupuk urea,” ujar Tjajuddin, Senin (9/5/2011). 

Pilihan petambak ini, kata Tjajuddin, juga akibat pupuk urea lebih gampang didapatkan di toko dan lebih praktis penggunaannya. Pupuk kandang biasanya didatangkan dari Kabupaten Bone dan Sinjai, tapi dalam jumlah yang sangat terbatas. 

Ia tidak memungkiri bahwa penggunaan pupuk kandang jauh lebih bagus ketimbang pupuk kimia. “Di samping murah, produksinya lebih bagus, dan jauh dari risiko kesehatan,” katanya. 

ANISWATI SYAHRIR