foto

TEMPO/Seto Wardhana

Seribu Obat untuk Penyakit Seribu Wajah

TEMPO Interaktif, Bandung -  

Harapan Frenti Amalia, 18 tahun, agar bisa lulus tahun ini telah buyar. Siswi Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 9 Bandung itu tak sanggup mengikuti ujian nasional. “Kepalanya suka pusing kalau mikir berat, menulis pun nggak kuat,” kata ibunya, Lili Triastuti, 52 tahun. Sebelumnya, anak sulung itu sempat memaksakan diri ikut ujian praktek memasak di sekolahnya agar bisa lulus. Tapi lupus di tubuhnya begitu perkasa.

 

Munculnya Systemic Lupus Erythematosus atau disingkat lupus pada tubuh gadis berbobot 30 kilogram itu ditandai oleh ruam di wajah pada Juni 2010. “Awalnya dikira sakit panas demam berdarah karena muncul merah-merah gitu kan di kulit,” kata Lili. Ia segera membawa Frenti ke  RS Al-Islam, Bandung. Saat itu dokter belum memastikan ada tidaknya lupus. Selang dua bulan kemudian, Frenti mengalami diare dan muntah. Ia diperiksa lagi ke rumah sakit tersebut untuk kedua kalinya. “Dokter bilang dia positif lupus,” ujar Lili.

 

Sesuai resep, harusnya Frenti melahap empat jenis obat. Namun karena mahal, anak pengrajin mebel itu hanya bisa diobati tiga obat. Buat obat sebulan keluarga penghuni Komplek Bumi Panyileukan itu perlu duit Rp 3 juta. Beruntung, bos suaminya yang seorang dokter gigi, membantu pengobatan itu dan membelikan Omega-3 agar kondisi tubuh Frenti tak mudah ambruk.

 

 Sebulan sekali Lili juga rutin membawa anaknya check up ke RS Santo Borromeus, Bandung, agar si luppy tetap tenang. Sebelumnya dengan pengobatan alternatif di Jalan Kiaracondong selama dua bulan, terapi Batu Langit gagal mengenyahkan keluhan pusing, mata buram, perut sakit, sesak nafas, hingga sulit tidurnya. “Sedih, tapi kami harus tabah dan kuat,” ujarnya sambil menahan tangis.

 

 Selain obat, Lili pernah mencoba pengobatan herbal berupa cairan klorofil. Cara itu telah dihentikan karena ia takut setelah mendengar suplemen itu berbahaya bagi penderita lupus. Akhirnya ia memilih cara yang aman, yaitu dengan menjaga asupan Frenti dengan makanan sehat buatannya sendiri. Di dapur ia mengolah tomat, wortel, dan bermacam sayuran sedemikian rupa agar anaknya yang tak doyan sayur itu mau makan. Pizza, salah satu kegemaran Frenti, dibuat sendiri agar lupus anaknya terhindar dari MSG dan banyak minyak. “Yang saya bingung sekarang dia sangat suka telur setengah matang,” katanya.

 

Suplemen sebagai pilihan utama akibat masih mahalnya harga obat lupus dan makanan sehat. Sabtu pekan lalu (7/5) di Aula Barat Institut Teknologi Bandung, Yayasan Syamsi Dhuha dalam memperingati Hari Lupus se dunia yang jatuh 10 Mei mengumumkan tiga pemenang riset suplemen dari bahan alami Indonesia bagi pengidap lupus. Mereka meneliti tumbuhan cocor bebek, daun songgolangit, dan ekstrak propolis atau sarang lebah.

 

Menurut pemerhati lupus, dokter Rachmat Gunadi, walau sudah diketahui sejak 30 tahun lalu, pengobatan lupus belum ada yang menyembuhkan. Mekanisme terjadinya lupus memang sudah diketahui, namun masih ada perdebatan sengit di dunia kedokteran. “Apakah lupus itu satu penyakit dengan beberapa gejala, atau beberapa penyakit yang menimbulkan gejala yang mirip satu sama lain,” ujarnya.

 

Kesimpulan sementara, pengobatan lupus idealnya dilakukan spesifik. “Kalau sekarang kayak dibom, jadi banyak efek sampingnya karena semua gejala dan dampak lupus dtekan. Tapi kalau tidak diobati, bisa mati dia,” kata spesialis penyakit dalam RS Hasan Sadikin, Bandung, itu. Memang ada steroid, satu obat yang bisa dipakai untuk semua penderita lupus. Tapi aturan pakainya harus berbeda-beda sesuai kondisi tiap pasien.

 

 Lupus muncul karena sistem kekebalan tubuh yang terlalu kuat sehingga menyerang sel-sel dan jaringan tubuh pengidapnya. Beberapa pencetusnya sejauh ini diyakini karena virus, bakteri, faktor keturunan, dan paparan sinar matahari. Akibatnya kulit, sendi, ginjal, paru, susunan saraf, dan organ tubuh lainnya bisa mengalami peradangan kronis. Karena itu lupus dikenal sebagai penyakit seribu wajah. Lima gejala umum yang paling banyak dialami pengidap lupus yaitu nyeri sendi, demam lebih dari 38 celcius, bengkak sendi, lemah Badan, dan ruam atau kemerahan pada kulit.

 

 Perempuan lebih rentan terserang daripada laki-laki. Berdasarkan hasil riset faktor keturunan di Finlandia, lupus bisa menurun dari seorang ibu pengidap lupus kepada anak lelakinya dengan rasio 1 banding 200. Adapun ke anak perempuan 1 berbanding 50. “Penularannya tidak langsung atau sekerap seperti orang asma atau kencing manis,” katanya.

 

 Menurut Rachmat, arah penelitian medis untuk pengobatan saat ini mulai mencari sel-sel tubuh yang terserang lupus. “Baik pada selnya sendiri atau produk yang dibuat oleh selnya. Ini nanti akan dihambat dengan pembuatan antibodinya,” ujarnya.

 

Sambil menunggu hasil riset itu, pengidap lupus diminta meneruskan pengobatan tanpa putus dan tidak mengganti obat tanpa seizin dokter. Selain itu Rachmat meminta pengidap lupus dan keluarganya menjaga suasana hati agar komunikasi antar sel di dalam tubuh pasien terjaga baik. Sebab seperti manusia yang tidak selalu akur, sel tubuh yang bisa terganggu karena kata dan sikap kurang baik misalnya, bisa ditangkap sel pertahanan tubuh sebagai serangan. “Kemudian  bisa timbul antibodi yang bahkan menimbulkan reaksi berbahaya bagi tubuhnya sendiri,” katanya.

 

Sama seperti obat, suplemen herbal juga belum bisa menyembuhkan dan baik dipakai semua pengidap lupus. “Masih empirik, coba-coba juga, dan berdasarkan pengalaman,” kata dokter pemerhati herbal, Rawan Wibowo.  Dokter spesialis penyakit dalam di RS Happy Land, Yogyakarta itu malah memadukan pengobatan racikan kimia ala barat dengan pengobatan dunia timur yang mengandalkan herbal. Sebab menurutnya, penanganan lupus kompleks dan harus menyeluruh untuk mengobati penyakitnya, gejala, dan komplikasinya.

 

Konsumsi suplemen herbal yang paling mudah dan relatif aman, ujar Rawan, dengan cara makan masakan rumah bermenu 4 sehat 5 sempurna, kecuali jika menimbulkan alergi. Pengaruh makanan bisa memperbaiki kondisi tubuh dan mencegah kerentanan terserang virus atau bakteri serta penyakit lain.

 

Madu sebagai pengganti gula, misalnya, bisa untuk mencegah diabetes. Sedangkan cokelat dan makanan berlemak tinggi harus ditinggalkan. Lemak tinggi bisa menyumbat aliran darah sehingga menimbulkan serangan jantung. “Salah satu penyebab kematian pada odapus (orang dengan lupus) yang paling besar itu jantung,” kata dokter integratif itu.

 

Selanjutnya menyusul radang paru-paru atau penumonia yang membuat pasien sesak nafas, serta gagal ginjal. Ia menyarankan odapus mengurangi daging dan memperbanyak makan ikan yang mengandung kalsium tinggi. Acuannya berdasarkan hasil penelitian di Inggris, sebanyak 2,4 kilogram per minggu. Bagi penderita yang alergi ikan, protein bisa diganti dengan nabati. Protein tersebut, bagus untuk mengatasi efek obat yang menyebabkan keropos tulang. Adapun efek obat lainnya yang menyerang mata, bisa dikurangi atau dihindari dengan meminum temulawak dan kunyit setiap hari sebagai anti radang.

 

Rawan meminta koleganya sesama dokter, mau bekerjasama dengan ahli nutrisi dan pakar herbal untuk memberikan kenyamanan hidup bagi para odapus. Selama ini, dokter dan herbalis masih sering jalan sendiri-sendiri dan merasa paling tahu. “Kepada sejawat dokter, mohon kita jangan terlalu skeptis terhadap herbal,” katanya. Di sisi lain, para pendamping dan pendukung Yayasan Syamsi Dhuha terus menyemangati hidup para odapus di seluruh Indonesia yang kini berkisar 200 ribu orang. “Never Give Up,” teriak mereka sambil mengepalkan tangan ke atas.

 (ANWAR SISWADI)