TEMPO/Seto Wardhana
Topik
Survei HSBC: Cina Partner Dagang Utama
TEMPO Interaktif, Jakarta - Terlepas dari pro dan kontra terhadap kerja sama perdagangan bebas ASEAN-Cina selama setahun terakhir, ternyata kalangan pedagang masih mengandalkan negara tirai bambu itu sebagai mitra dagang utamanya. Hal ini tampak dari hasil Trade Confidence Index periode tengah tahun pertama 2011 yang dipaparkan HSBC.
Dari survei itu terlihat Cina menduduki posisi pertama sebagai target ekspor Indonesia menyusul Asia Tenggara, Amerika, Kanada, Eropa Barat, Timur Tengah, Eropa Timur dan Tengah, Australia dan Selandia Baru, Jerman, Afrika, dan Inggris. "Cina dianggap memiliki potensi untuk pengembangan bisnis, termasuk ekspor dan impor," ujar Head Trade and Supply Chain HSBC Indonesia Nirmala Salli, kemarin.
Selain Cina, pelaku dagang juga mengandalkan hubungan perdagangan dengan negara Asia Tenggara dan Asia lainnya. Sebanyak 48 persen responden yakin bahwa volume perdagangan antar negara akan terus meningkat.
Survei itu juga menyebutkan pelaku perdagangan di Indonesia paling optimistis di antara negara Asia Tenggara. Bahkan Indonesia menduduki posisi keempat sebagai negara teroptimistis dari dari 21 negara yang disurvei, setelah India, Arab Saudi dan Meksiko.
Dari hasil tersebut, HSBC melihat tren perdagangan antar kawasan akan terus meningkat dan perdagangan akan menjadi faktor utama penggerak pertumbuhan ekonomi di Asia, menggantikan konsumsi domestik. "Untuk itu penting bagi Indonesia untuk menjadi pemain aktif dalam skema perdagangan lintas batas yang terus berkembang ini," ungkapnya.
Survey HSBC TCI itu dilakukan sepanjang Februari hingga April 2011 dengan mengambil sampel di 21 negara di kawasan Asia Pasifik, Timur Tengah, Amerika serta Eropa. Jajak pendapat itu melibatkan 6.390 perusahaan skala kecil dan menengah yang memiliki aktivitas ekspor-impor.
Di Indonesia survei melibatkan 300 responden perusahaan skala kecil dan menengah di dua kota besar, Jakarta dan Surabaya. Sebanyak 40 persen responden adalah pengusaha retail, 20 persen pelaku ekspor-impor, 10 persen pengusaha manufaktur, dan sisanya dari pengusaha lain. "Keseluruhannya merupakan pengusaha beraktivitas ekspor-impor," kata Nirmala.
AGUNG SEDAYU





