Ki Timbul di Yogyakarta, 1986. TEMPO/ Yuyuk Sugarman
Topik
Ki Timbul Dikenal Sebagai Dalang yang Disiplin
TEMPO Interaktif, Yogyakarta - Ki Timbul Hadiprayitno dikenal sebagai seorang dalang yang disiplin dan tepat waktu. Margiyono, 60 tahun, salah seorang muridnya mengenang, tiap kali memenuhi undangan, dalang senior yang bergelar Cermo Manggolo itu selalu datang dua jam sebelum pementasan wayangnya dimulai. “Pentas jam 9 malam, misalnya, semua krunya dipeseni agar sudah datang di lokasi jam 7,” katanya mencontohkan.
Ki Timbul berpulang pukul 01.15 WIB, Selasa dini hari tadi, di rumahnya di Patalan, Bantul, Yogyakarta. Siang pukul 14.00 WIB ini, jenazahnya dimakamkan di tempat pemakaman umum desa setempat. Ratusan orang mengantar kepergiannya dari rumah duka yang berada persis di tepi Jalan Parangtritis, Yogyakarta.
Menurut Margiyono, sebagai seorang dalang, Ki Timbul punya cukup kemampuan mensinkronkan lakon wayang yang dipentaskan dan waktu yang tersedia. Misalnya, dengan waktu pementasan jam 9 malam hingga subuh, masa pementasan lakon wayang yang dipentaskan selalu pas dengan waktu yang tersedia. “Ini luar biasa,” kata lelaki yang kini juga berprofesi sebagai dalang wayang kulit itu.
Ki Timbul menekui dunia pedalangan sejak awal 1950. Pada 1979, dia sudah mendapat penghargaan nasional dan dikenal sebagai dalang favorit Presiden Soeharto. “Dia dalang tiga generasi,” kata Margiyono yang semula menjadi penabuh kendang dalam pementasan wayang Ki Timbul sejak 1982. “Dari Orde Lama, Orde Baru, hingga Reformasi.”
Semasa hidupnya, Ki Timbul telah mementaskan wayang kulit di pelbagai daerah di Indonesia. Tak hanya Jawa, dia juga mementaskan wayang hingga Sumatra dan Kalimantan. Bahkan pada 1980, dia diundang ke London, Inggris, untuk mementaskan wayang di depan masyarakat dunia. Lalu, pada 1997 dia disebut pernah berkunjung ke India dalam rangka workshop and exihibition Indian and South East of Asia Tribal Art.
Margiyono mengenang di London Ki Timbul mementaskan lakon Wahyu Makutoromo. Lakon ini berisi tentang wejangan pada seorang raja (Presiden) yang harus mengayomi rakyatnya. “Saya tidak ikut ke London,” kata dia berkisah.
Kecintaan Ki Timbul dalam dunia pewayangan dan profesi dalang cukup besar. Bahkan di pengujung usianya, dia masih aktif mementaskan wayang. Sebelum kesehatannya menurun dan memaksanya harus dirawat di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta, 27-30 April kemarin, Ki Timbul masih sempat mementaskan wayang di sebuah desa di Bantul.
Bahkan, malam hari, beberapa jam sebelum meninggal, Margiyono ingat ada dua orang dari Bengkulu datang ke rumah Ki Timbul untuk menyampaikan undangan pementasan. “Tapi, tak jadi karena tahu kondisi Ki Timbul sudah kritis,” katanya. “Orang itu sampai gemetaran.”
ANANG ZAKARIA





