foto

TEMPO/Dasril Roszandi

Pertumbuhan Industri Kayu Nasional Terancam

TEMPO Interaktif, Jakarta - Pertumbuhan industri kayu dalam negeri terancam. Sebab, permintaan bahan baku yang tinggi tak mampu diimbangi dengan jumlah pasokan memadai. "Permintaan bahan baku kayu meningkat terutama setelah Jepang mengalami bencana. Permintaan tinggi tapi pasokan tetap," kata Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan di Jakarta, Kamis, 12 Mei 2011.

Merosotnya kinerja industri kayu diakui Sekretaris Jenderal Kementerian Kehutanan Hadi Daryanto. Saat ini industri mebel sedang terpukul. Namun untuk kayu pertukangan (wood working) dan bubur kertas (pulp paper) tetap bertumbuh. "Dari dulu seluruh industri kayu negatif. Tapi mebel memberi sumbangan besar pada pertumbuhan yang minus," ujarnya.

Hadi menengarai, penurunan tren industri kayu akibat pasar di Tanah Air jauh tertinggal ketimbang Cina. Secara kompetitif, mesin dan infrastruktur mereka lebih bagus. Sumber permodalan di Cina juga mudah diperoleh. Belum lagi bunga kredit yang murah. “Sementara industri kita tak ada kemudahan kredit seperti itu," ujarnya.

Jeleknya rapor industri tergambar dari data Badan Pusat Statistik. Hingga akhir 2010, realisasi ekspor rotan mencapai US$ 138 juta, atau turun dari 2009 sebesar US$ 167 juta. Statistik pun mencatat, ekspor bubur kayu sepanjang Januari-Maret 2011 menjadi US$ 270,9 juta, turun 18,8 persen dari US$ 384,6 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Sebenarnya, kata Zulkifli, Indonesia memiliki keunggulan sumber daya alam dibandingkan dengan negara ASEAN lain. Namun jika dibandingkan dengan Negeri Panda, sektor manufaktur memang tertinggal. "Karena itu diupayakan agar pemerintah Cina tak hanya mengekspor, juga mengimpor barang jadi dari Indonesia," katanya.

Menurut Zulkifli, untuk bersaing dengan Cina dalam konteks pasar bebas ASEAN-Cina, Indonesia harus dapat meningkatkan kemampuan sumber daya manusia dan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya. "Kita jangan hanya mengekspor bahan baku. Tapi harus mampu mengolah agar nilai tambah tak berpindah tempat," tuturnya.

Bukannya tak ada peluang bagi pasar lokal menyaingi produk Cina. Ketua Umum Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia Ambar Tjahyono mengatakan, kelemahan Cina adalah kualitas barang yang kurang bagus. Ini yang harus dimanfaatkan pengusaha Indonesia dan ASEAN. "Kita harus membuat brand image," ujarnya.

Asmindo dan negara ASEAN akan membahas produk domestik yang bisa diekspor ke seluruh ASEAN. Misalnya, mebel berbahan dasar kayu jati dan rotan. Pembahasan pun menyangkut kualitas dan strategi persaingan harga sehingga produk Cina yang lebih murah dapat dikalahkan. "Walau harganya sedikit lebih mahal, tapi kualitas bagus," ujar Ambar.

ROSALINA | TRI SUHARMAN