foto

TEMPO/Eko Siswono Toyudho

Indeks Saham Turun, Rupiah Ikut Melemah

TEMPO Interaktif, Jakarta - Harga komoditas yang kembali jatuh serta melemahnya bursa Asia membuat indeks gagal mendekati level tertingginya. Ditambah lagi melemahnya bursa Eropa dan terdepresiasinya rupiah membuat indek lokal jatuh cukup dalam pada perdagangan kemarin.

Di akhir pekan ini indeks harga saham gabungan IHSG) akan bergerak fluktuatif di kisaran antara 3.782 hingga 3.823. Namun, bila bursa Wall Street kembali terkoreksi cukup dalam, maka indeks bisa turun hingga ke level 3.772. ”Tetapi tidak menutup kemungkinan indeks berbalik arah naik karena optimisme investor terhadap fundamental ekonomi,” ujar Alfiasnyah, analis dari PT Valbury Asia Securities hari ini, Kamis 12 Mei 2011.

Pada perdagangan kemarin indeks jatuh 29,432 poin (0,7 persen) kelevel 3.808,1.
Bursa Tokyo juga turun 1,5 persen, bursa Shanghai melemah 1,33 persen, bursa Hong Kong melemah 0,94 persen, bursa Australia jatuh 1,68 persen, serta bursa Singapura juga terkoreksi 1,47 persen.

Terdepresiasinya mata uang Asia dan jatuhnya harga saham di bursa lokal berimbas pula terhadap rupiah. Di pasar uang antar bank kemarin nilai tukar rupiah melemah 34 poin menjadi 8.565 per dolar Amerika serikat.

Kejatuhan indeks hari ini, Alfiansyah mengungkapkan, lebih disebabkan oleh faktor eksternal yaitu imbas jatuhnya bursa regional dan merosotnya harga minyak.

“Jatuhnya bursa Eropa di sesi pembukaan terimbas jatuhnya harga minyak dan kekhawatiran masalah utang membuat indeks kembali turun mendekati level 3.800,” paparnya.

Di saat seperti ini investor bisa melakukan akumulasi saham di harga rendah bila kembali terjadi koreksi lagi. Caranya, dengan memanfaat saham – saham yang sudah memasuki area oversold (jenuh jual) dalam perdagangan hariannya. Saham seperti itu misalnya
Aneka Tambang ANTM), PT Timah (TINS) disektor tambang, Bank BRI (BBRI) dan Bank BCA (BBCA) di sektor perbankan, serta London Sumatera (LSIP) di sektor perkebunan.

VIVA B. KUSNANDAR