foto

Dok. TEMPO/Puspa Perwitasar

Pengurangan Produksi Premium Kebijakan Banci

TEMPO Interaktif, Jakarta - Wacana pengurangan produksi Premium tampaknya sulit terwujud. Pemerintah lebih berfokus mengatur kebijakan subsidi tepat sasaran ketimbang memangkas produksi Premium. "Pola pemberian subsidi yang baiklah yang kami pikirkan," kata Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa di Jakarta, Kamis, 12 Mei 2011.

Menurut Hatta, pengurangan produksi Premium justru bakal menimbulkan permasalahan baru. Masyarakat akan berbondong-bondong menggunakan Pertamax sehingga terjadi penumpukan di sejumlah pompa bensin. "Orang akan ''menubruk'' Pertamax sehingga menyebabkan antrean panjang," ujarnya.

Keinginan Hatta itu bertolak belakang dengan pernyataan Kepala Badan Kebijakan Fiskal Bambang Brodjonegoro sehari sebelumnya. Bambang menyebutkan bahwa pemerintah akan mengurangi produksi Premium untuk menekan beban subsidi. Kebijakan ini bakal menekan penyelundupan karena produksi Premium melimpah.

Sepakat dengan Hatta, ekonom Universitas Indonesia, Faisal Basri, menyebut rencana mengurangi produksi Premium sebagai kebijakan yang keliru. "Itu kebijakan banci," ujarnya. Bukannya mengatasi pasar gelap, kata dia, kebijakan tersebut malah memungkinkan timbulnya pasar gelap.

Dalam kebijakan pengaturan subsidi BBM, menurut Faisal, pemerintah harus punya trik mengurangi subsidi tanpa menggerus produksi. Ia mendesak pemerintah berani menaikkan harga Premium. "Itu keputusan yang paling rasional," ujarnya. "Banyak lubang yang harus diselesaikan, tapi jangan menimbulkan masalah baru."

IRA GUSLINA SUFA