Sejumlah masyarakat Kongo kembali harus mengungsi setelah bentrokan yang terjadi antara pemberontak dan pasukan pemerintahan di Kongo, (06/11). Bentrokan ini terjadi untuk yang kedua kalinya setelah Sabtu lalu. FOTO: AP Photo/Jerome Delay
Topik
Kamis, 12 Mei 2011 | 15:46 WIB
Setiap Jam, 48 Perempuan di Kongo Diperkosa
TEMPO Interaktif, Dakar - Ini cerita horor bagi para perempuan. Kongo, sebuah negara di Afrika, menjadi tempat paling menakutkan di dunia bagi perempuan. Sebuah penelitian mengungkapkan sebanyak 1.152 perempuan setiap hari diperkosa. Artinya, rata-rata ada 48 perempuan yang diperkosa setiap jam!
Jumlah perempuan yang diperkosa ini lebih banyak dari laporan Perserikatan Bangsa Bangsa tahun lalu. Perserikatan Bangsa Bangsa tahun 2010 melaporkan setiap tahun ada sekitar 16 ribu kasus pemerkosaan di Kongo.
Menurut Michelle Hindin, pengajar di Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, jumlah pemerkosaan yang terbaru bisa lebih besar jika penelitian itu didasarkan pada data yang diperoleh dari wawancara tatap muka. "Angka ini mengejutkan, tapi mungkin lebih besar lagi karena banyak yang takut mengungkapkan hal sebenarnya," kata spesialis kekerasan gender ini seperti dikutip dari AP, Rabu 11 Mei 2011.
Kongo, negara berpenduduk 70 juta jiwa, telah bertahun-tahun dilanda perang. Para militer banyak yang memperkosa perempuan untuk menghancurkan sebuah komunitas. Dalam analisis yang dipublikasikan di American Journal of Public Health, lebih dari 400 ribu perempuan di Kongo diperkosa pada 2006-2007.
Satu wilayah yang paling banyak kasus pemerkosaannya adalah North Kivu. Di daerah ini, sebanyak 67 dari 1.000 perempuan diperkosa lebih dari satu kali. "Ini jelas sebuah pesan. Kasus pemerkosaan di Kongo menjadi salah satu masalah terbesar manusia saat ini," kata Direktur Harvard Humanitarian Initiative, Michael VanRooyen.
Margot Wallstrom, pejabat PBB yang membidangi kekerasan seksual di wilayah konflik, membenarkan penelitian ini. "Masalah kekerasan seksual salah satu hambatan bisa terciptanya perdamaian," kata Wallstrom.
AP | PGR





