foto

Suryadarma Ali. TEMPO/Dinul Mubarok

Kementerian Agama Mengaku Tak Temukan NII di Al Zaytun

TEMPO Interaktif, Jakarta -  Menteri Agama Suryadharma Ali mengakui kementeriannya tidak mampu menembus organisasi bawah tanah NII KW IX yang diduga dilakukan Pesantren Al Zaytun pimpinan Syek Panji Gumilang. Kementerian Agama hanya bisa meneliti tanda-tanda yang mereka kerjakan dan menghubungkan dengan karakteristik NII. "NII itu organisasi bawah tanah kami tidak memiliki kemampuan mengejar mereka sampai bawah tanah," kata Suryadharma di Kantor Presiden, Kamis 12 Mei 2011.

Sebelumnya, mantan Menteri Peningkatan Produksi Negara Islam Indonesia (NII) Komandemen Wilayah IX, Imam Supriyanto menyatakan Pesantren Al-Zaytun pimpinan Abdussalam Panji Gumilang terkait dengan NII. Ia juga melaporkan Panji Gumilang, ke Badan Reserse Kriminal Mabes, dengan tuduhan pemalsuan dokumen. Laporan terhadap Panji ini diklaim Imam bisa jadi pintu masuk bagi penyidik untuk mengusut NII.

Menurut Suryadharma, kewenangan investigasi harus dilakukan intelejen, aparat keamanan dan polisi. Ia mengungkapkan dalam penelitian yang dilakukan kementerian agama tahun 2002 itu penelitian yang mendalam. Namun, ia mengatakan juga tidak ditemukan tanda-tanda itu. Mulai dari gurunya, muridnya, kurikulumnya, bukunya, alumninya itu diteliti termasuk orang tua. Temuannya tetap saja tidak ada hubungan itu.

Dalam kunjungan tim Kementerian Agama tidak menemukan keserupaan Pondok Pesantren Al Zaytun dengan gerakan NII. Hal itu ditandai dari gedung yang modern, sistem penyelenggaran yang modern, biaya kehidupan pondok pesanteran dilakukan dengan cara-cara bisnis usaha yang halal dan dapat dipahami. Al Zaytun juga memiliki tingkat toleransi pada musik merupakan bagian dari ukuran. Sampai di lokasi, disuguhi musik gamelan, kosidah, lagu band mulai dari lagu klasik sampai lagu modern, banyak lagu yang tidak biasa didengar di pondok pesantren misalnya lagu spanyol, latin. "Mereka menyanyikan itu menunjukan toleransi yang begitu besar," katanya.

Ciri-ciri radikal itu memiliki pandangan yang sempit yang disebut fanatisme sempit. Tapi tidak terlihat kesempitan pada pandangan Al Zaytun ditambah lagi dengan pelajaran komputer lebih dari 120 hardware dari ISDL itu menunjukan bahwa pesantren ini terbuka luas dengan dunia luar dengan komputer.

NII itu menganggap dirinya Islam yang lain kafir. Suryadharma tidak menemukan hal itu. Misalnya, saat sholat duhur di sana, diterima dengan baik. "Kalau kafir pasti ditolak. kafir mungkin najis," katanya. ia juga mempertanyakan keterlibatan Panji dalam gerakan NII dan dibantahnya dengan sejumlah argumen klarifikasi. "Setidaknya, dilihat 3 unsur, pertama historis, aset finansial dan aspek kepemimpinan Panji Gumilang adalah pemimpin KW 9 saya tanyakan, dan itu semua mereka bantah," katanya.

EKO ARI WIBOWO