Kondisi Sumi Kritis di Antara Beragam Pelayanan Kesehatan Gartis  

TEMPO Interaktif, Pamekasan - Sungguh malang nasib Sumi. Ibu berusia 45 tahun itu sudah 10 tahun terbaring lemah di rumahnya, di Desa Totoran, Kecamatan Tlanakan, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur.

Kondisinya kian parah. Penyakit tumor rahim terus menggerogoti tubuhnya. Dua anaknya tak lagi bisa diurusnya. Bahkan untuk mandi dan makan, Sumi harus dibantu sang suami, Padmi, 60 tahun.

Perutnya membuncit bak wanita hamil. Seluruh bagian tubuhnya, mulai dari dada, tangan, paha, hingga betis, ringkih, hanya tinggal tulang.

"Tidak pernah dibawa berobat ke rumah sakit ataupun ke dokter karena tak punya biaya," ujar Padmi ketika ditemui Tempo di rumahnya, Minggu, 15 mei 2011.

Pemerintah Kabupaten Pamekasan memang menerapkan berbagai program pelayanan kesehatan gratis bagi warga miskin.

Ada program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) yang pembiayaannya dibantu pemerintah pusat. Ada pula program Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) yang dibiayai bersama melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) kabupaten dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Bahkan setiap warga miskin yang ingin mendapatkan pelayanan kesehatan gratis diberi kesempatan Surat Pernyataan Miskin (SPM) sebagai pengganti kebijakan Surat Keterangan Tanda Miskin (SKTM) yang diterapkan sebelumnya.

Namun, semua fasilitas gratis tersebut tak sampai ke telinga Padmi. Lelaki yang saat ini mengandalkan mata pencaharian sebagai pekerja serabutan itu bertutur, tak pernah mengetahui adanya pelayanan kesehatan gratis bagi warga miskin seperti dirinya dan keluarga.

”Saya tidak pernah tahu, tidak pernah mendengarnya,” ucap Padmi sembari menambahkan tidak pernah ada petugas dari pemerintah yang menjelaskannya.

Padmi sebelumnya mengandalkan penghasilannya sebagai tukang becak untuk berobat istrinya. Namun, karena uang terus dibutuhkan, satu-satunya becak miliknya harus dijual.

"Sekarang istri saya tidak bisa berobat lagi. Biaya untuk makan saja susah," ucap Padmi.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Pamekasan, Budi Irianto, mengakui dari 364 ribu lebih warga Pamekasan, 81 ribu di antaranya tergolong miskin.

Namun, karena terbatasnya keuangan daerah, hanya 9.101 keluarga miskin atau 2,5 persen yang mendapatkan pelayanan berobat gratis. "Masih ada 72 ribu jiwa yang belum ter-cover,” kata Budi.

Meski demikian, Budi mengklaim 72 ribu warga miskin tersebut tetap bisa mendapatkan pelayanan kesehatan secara gratis menggunakan fasilitas SPM.

"Kalau ada warga miskin yang belum menikmati SPM, mungkin karena kurangnya sosialisasi," paparnya.

Memang malang nasib Sumi. Ibu yang kini wajahnya tampak lebih tua dari usianya itu, menjadi korban kurangnya sosialisasi beragam program gratis dari pemerintah yang seharusnya bisa dinikmatinya.

MUSTHOFA BISRI