foto

PT Badak Natural Gas Liquefaction (NGL) di Bontang, Kalimantan Timur. ANTARA/Puspa Perwitasari

PLN Jajaki Impor Gas  

TEMPO Interaktif, Jakarta - PT PLN (Persero) berencana mengimpor gas alam cair (LNG) dari beberapa negara seperti Iran, Qatar, Australia dan Papua Nugini. Direktur Utama PLN, Dahlan Iskan, dua pekan lalu sudah pergi ke Iran guna menjajaki kemungkinan impor LNG dari negeri para Mullah itu.

Impor ini guna mengantisipasi jika nanti tak dapat suplai gas dari dalam negeri. Iran kini sedang gencar memproduksi LNG besar-besaran. “Mereka bisa suplai, tapi harganya belum dibicarakan secara detail,” kata Dahlan di sela Rapat Dengar Pendapat di Komisi Energi DPR, Rabu (18/5).

Menurut Dahlan, yang menarik dari gas Iran adalah harga yang fleksibel. Dengan beberapa skenario harga yang salah satunya harga gas disesuaikan dengan fluktuasi harga minyak mentah atau dibandingkan dengan energi yg dipakai sekarang, menurut dia, harga gas ini “bisa dipertanggungjawabkan kepada publik.”

Selain itu, Dahlan menyatakan harga gas ini lebih murah dibandingkan memproduksi listrik dengan bahan bakar minyak solar. “Harganya lebih murah dari BBM,” katanya.

Namun bila dibandingkan dengan gas, harga LNG impor ini memang lebih mahal, karena gas alam cair butuh proses liquidification dan gasification. Selain itu, proses suplai gas susah dan lama.

Menurut Direktur Energi Primer PLN, Nur Pamudji sumber gas dari dalam negeri yang bisa diharapkan lama untuk direalisasikan. Gas dari Blok Tangguh train III paling cepat 2015, lapangan Gas Masela paling cepat 2019, dan blok selat Makassar bisa lebih dari 2018.

“Ini memberikan ketidakpastian suplai gas,” kata dia. Sedangkan jika impor, dalam dua tahun gas bisa terealisasi.

Adapun hingga kuartal satu tahun ini total produksi setrum PLN mencapai 43,1 Terawatt atau 98,1 persen dari target. Gas alam hanya menyumbang 16,58 persen. Sumber utama dari listrik saat ini adalah batu bara 28,85 persen, beli non-BBM (listrik swasta) 24,05 persen, BBM 22,36 persen, air 6,08 persen dan panas bumi 2,07 persen.

NUR ROCHMI