Malaysia Ajak Indonesia Produksi Senapan M4

Malaysia Ajak Indonesia Produksi Senapan M4

TEMPO/Aditia Noviansyah

TEMPO Interaktif, Jakarta - Malaysia mengajak Indonesia dan Thailand berkolaborasi untuk memproduksi senapan jenis Karabin M4. Karabin M14 dirancang oleh perusahaan Amerika untuk menggantikan senapan lama jenis M16 sejak 2010 lalu. Menteri Pertahanan Malaysia, Dato Seri Ahmad Zahid bin Hamidi, menyatakan kerjasama bisa dalam bentuk kepemilikan saham bersama.

"Malaysia sendiri sudah mencanangkan penggantian M16 ke M4," kata Ahmad Zahid di Jakarta, Jumat 20 Mei 2011. Salah satu perusahaan Malaysia telah mendapatkan lisensi untuk memproduksi M4 dari Colt, produsen senapan asal Amerika tersebut.

Ahmad mengatakan produksi pertama senapan M4 sudah dimulai dan diharapkan tahun ini bisa dihasilkan sebanyak 20 ribu laras senapan M4 untuk Malaysia saja. Tawaran kerjasama ini disampaikan sebagai langkah awal kerjasama industri pertahanan negara-negara ASEAN. Jika kerjasama ini bisa dikembangkan untuk mengisi pasar ASEAN, potensi produksinya akan lebih besar.

Kebutuhan akan senapan ini, di Malaysia saja mencapai 100.000 unit. Sementara di Thailand mencapai sekitar 300 ribu unit. Indonesia diperkirakan butuh lebih besar. Total kebutuhan senapan M4 untuk menggantikan M16 di seluruh ASEAN diperkirakan bisa mencapai satu juta unit.

Kerjasama yang ditawarkan Malaysia tak harus dalam dalam bentuk share equity. Malaysia juga menawari Indonesia dan Thailand kerjasama dalam bentuk lain, yakni memproduksi komponen senjata itu untuk dirakit di Malaysia. Bahkan salah satu komponen, yakni alat picu senapan akan diproduksi oleh Indonesia.

Senapan M4 Karabin memiliki panjang laras 37 sentimeter dan dirancang untuk digunakan dalam operasi infanteri, pasukan khusus maupun pasukan komando. Meski tak jauh berbeda dengan versi pendahulu M16, Karabin M4 memiliki bobot lebih ringan dan lebih fleksibel digunakan oleh pasukan dengan tinggi badan yang beragam.

KARTIKA CANDRA

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X