AP/Koji Sasahara
Topik
Panasonic Hadapi Tahun-tahun yang Sulit
TEMPO Interaktif, Tokyo - Presiden Panasonic Corp. mengatakan, tahun fiskal ini “sangat keras” untuk raksasa elektronik Jepang itu karena perkiraan dampak gempa pada 11 Maret berlanjut melewati kuartal ini. “Rantai suplai belum pulih sepenuhnya,” kata Presiden Fumio Ohtsubo pada wartawan di Tokyo.
Perusahaan ini masih mengurus kekurangan komponen dan bahan mentah, sementara persediaan beberapa produk sudah habis. Pandangan Ohtsubo yang hati-hati mencerminkan ketidakpastian yang dihadapi produsen elektronik dan otomotif Jepang karena prospek pemulihan mereka sangat tergantung pada pemasok komponen dan bahan baku.
Perhatian juga tertuju pada kemungkinan kekurangan listrik akibat bencana alam dan soal nuklir yang belum tuntas di reaktor nuklir Fukushima Daiichi. Selain berurusan dengan efek gempa bumi, Panasonic juga berada pada titik balik yang krusial.
Setelah integrasi menyeluruh dua anak cabang—Sanyo Electric Co. dan Panasonic Electric Works Co.—bulan lalu, perusahaan ini lebih fokus pada teknologi hijau seperti energi terbarukan dan produk hemat energi.
Ohtsubo mengatakan dampak gempa bumi pada kuartal ini tidak separah yang dikhawatirkan. Pendapatan yang hilang akibat bencana alam sekarang diperkirakan setengah atau bahkan sepertiga dari yang mereka perkirakan pada 28 April, beberapa ratus miliar yen.
Tapi Ohtsubo juga memberi sinyal bahwa kondisi ini tidak akan banyak membaik pada kuartal Juli-September. “Fasilitas produksi kami di utara Jepang telah melanjutkan operasi, tetapi output mereka belum kembali seperti pada level sebelum gempa,” katanya.
Gempa bumi, dilanjutkan masalah pasokan energi mempengaruhi banyak pabrik Panasonic di Jepang, memaksa beberapa untuk tutup. Semuanya telah melanjutkan paling tidak operasi parsial, paling tidak setengahnya.
Tapi, Ohtsubo mengatakan, ketika produk habis, beberapa pabrik mungkin tidak dapat memenuhi semua pesanan mereka. Produksi kamera digital Panasonic, misalnya, telah terpengaruh oleh tidak cukupnya pasokan lensa dan komponen elektronik.
Sementara pesanan pada Panasonic untuk komponen-komponen mobil telah menurun akibat produksi berkurang pada produsen otomotif, kata Ohtsubo. Tanpa tantangan akibat gempa bumi saja, Ohtsubo berada pada posisi sulit karena ia berusaha mengarahkan fokus perusahaan dari konsumen elektronik ke produk yang potensial berkembang cepat.
Sementara, produk televisi panel datar, produk utama Panasonic terus merugi di tengah persaingan harga yang ketat dan pasar yang padat, perusahaan ini belum dapat meningkatkan pendapatan. “Menghasilkan uang dari TV pada tahun fiskal ini adalah tugas besar, tapi kita harus membuatnya untung pada tahun fiskal berikutnya,” kata Ohtsubo.
Beban investasi pada bisnis TV akan menurun tajam pada tahun fiskal berikutnya akan menurun tajam karena ada investasi modal pada fasilitas produksi panel. Tujuan mengeluarkan bisnis TV dari kerugian selama beberapa tahun ke depan sementara produk seperti baterai lithium-ion isi ulang dan panel surya adalah bisnis besar, membawa porsi beban pendapatan yang besar.
Untuk tetap berkembang lebih cepat dari para kompetitornya di Asia dalam pasar baterai lithium-ion untuk konsumen elektronik, salah satu bisnis Panasonic paling kompetitif secara global, perusahaan memindahkan produksi lebih banyak ke China.
Ohbutso mengatakan pada Jumat (20/5), perusahaannya merencanakan pemotongan lapangan kerja yang diumumkannya bulan lalu, agaknya dalam persentase diberlakukan pada pegawai Panasonic di dalam dan luar Jepang. “Kami meninjau ulang struktur bisnis kami dan produk turunannya, dan akan berujung pada pengurangan tenaga kerja,” katanya.
Panasonic mengatakan pada akhir April, telah memangkas 17.600 lapangan kerja tahun lalu dan berencana memotong lagi 17 ribu di seluruh dunia dalam dua tahun ke depan karena dapat meningkatkan efisiensi operasi, tapi mereka tidak mengungkap pemotongan lapangan kerja saat itu.
Panasonic memperkirakan jumlah pegawainya di seluruh dunia pada akhir Maret 2013 sekitar 350 ribi atau lebih sedikit, turun 4,6 persen dari perkiraan 367 ribu pada akhir Maret 2011. Tahun lalu jumlah pegawai mendekati 385 ribu orang. Sekitar 40 persen pegawai Panasonic berada di Jepang, sedangkan 60 persen di berbegai negara.
THE WALL STREET JOURNAL | ATMI PERTIWI





