Peluncuran Modern Library of Indonesia

Peluncuran Modern Library of Indonesia

Djarum Foundation

TEMPO Interaktif, Jakarta -Yayasan Lontar bekerja sama dengan Djarum Bakti Budaya meluncurkan The Modern Library of Indonesia, pada Kamis (19/5), di Jakarta. Seri ini terbit atas bantuan Djarum Foundation, dan didukung Ford Foundation. Seri ini adalah salah satu program Yayasan Lontar berupa penerbitan seri terjemahan bahasa Inggris dari karya-karya sastra Indonesia yang penting dan berharga untuk menyuarakan zamannya, mulai 1920-an, hingga kini. Renitasari, Direktur Program Bakti Budaya Djarum Foundation mengatakan, “Sastra memancarkan kehidupan, emosi dan perkembangan bangsa. Sastra Indonesia berpotensi besar, tapi sayangnya kurang dikenal di dunia.”

Sepuluh judul karya pertama seri Modern Library of Indonesia yang diluncurkan adalah Sitti Nurbaya karya Marah Rusli, Never the Twain (Salah Asuhan) karya Abdoel Moeis, Shackles (Belenggu) karya Armijn Pané, The Fall and the Heart (Kejatuhan dan Hati) karya S. Rukiah, The Pilgrim (Ziarah) karya Iwan Simatupang, Telegram karya Putu Wijaya, And The War is Over (Dan Perang pun Usai) karya Ismail Marahimin, Mirah of Banda (Mirah dari Banda) karya Hanna Rambé, Supernova karya Dewi Lestari dan Family Room (kumpulan cerita pendek) karya Lily Yulianti Farid. Dalam 30 tahun mendatang diharapkan terbit 50 judul karya.

Pelucuran ini dibarengi dengan diskusi Kebangkitan Sastra Indonesia di Panggung Dunia, dengan pembicara Putu Wijaya (sastrawan), Dewi Lestari (novelis), John McGlynn (editor utama dan salah seorang pendiri Yayasan Lontar) dan Mira Lesmana (sineas), serta moderator Tina Talisa.

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan