Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. TEMPO/Aditia Noviansyah
Topik
Pemerintah Terbuka untuk Masukan dari Pemuka Agama
TEMPO Interaktif, Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, pemerintahannya terbuka untuk menerima masukan dari siapa pun, termasuk para pemuka agama, guna bersama-sama menyelesaikan persoalan yang dihadapi bangsa.
"Alangkah bahagianya jika semua pihak bisa menjadi bagian dari solusi," kata Presiden Yudhoyono dalam pidatonya pada perayaan Dharmasanti Waisak di JI Expo, Kemayoran, Sabtu 21 Mei 2011 malam.
Presiden berharap semua pihak dapat memberikan solusi tidak hanya pandai mencerca dan menyalahkan serta meninggalkan sikap mementingkan diri sendiri.
Secara khusus, Presiden mengajak para pemuka agama untuk mengedepankan kearifan, kewibawaan, dan kemuliaan dalam menghadapi persoalan. "Saya harap tokoh agama bisa memainkan peran utama untuk menyampaikan keteladanan dan pencerahan kepada umatnya," ujarnya.
Menurut Presiden, akan sangat mulia jika para pemuka agama dapat memberikan pernyataan yang menenteramkan dan sikap optimistis atas segala permasalahan yang dihadapi umatnya.
Ia mengatakan persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia tidak semakin mudah seiring dengan berjalannya waktu.
Pada kesempatan itu Presiden juga mengatakan perayaan Dharmasanti tahun ini istimewa karena berdekatan dengan peringatan ke-103 Kebangkitan Nasional, saat bangsa Indonesia menanamkan kesadaran untuk bangkit sebagai satu bangsa.
Tema Waisak 2011 adalah "Mencari Kebahagiaan dan Kedamaian dari Dalam Diri Sendiri".
Pada pidato sambutannya, Ketua Panitia Perayaan Waisak Nasional Hartati Murdaya menyampaikan penghargaan tinggi kepada pemerintah yang telah memberikan legitimasi kuat kepada semua agama di Tanah Air, termasuk Buddha.
Hartati juga mengatakan, selain mengingatkan segenap umat Buddha atas riwayat hidup Sang Buddha, tujuan perayaan Waisak juga untuk mendukung kerukunan dan rasa kebersamaan serta mendukung pemerintah melaksanakan tri kerukunan: kerukunan antarumat Buddha, antara umat Buddha dan umat agama lain, serta antara umat beragama dan pemerintah.
Hartati mengajak umat Buddha se-Indonesia memanfaatkan momentum Trisuci Waisak untuk melakukan introspeksi dengan rendah hati, bekerja keras, berjuang melawan kebodohan, keserakahan, kemarahan dan berbagai penyakit moral, mental dan kejiwaan.
Sementara itu Bhiksu Tadisa Paramita Mahasthavira dalam pesan Waisaknya menyampaikan hakikat dari kebahagiaan hakiki.
Ia mengatakan bahwa kebahagiaan adalah bebas dari keterikatan doktrin, mampu mengalahkan nafsu indra, serta selalu puas di hati.
Presiden Yudhoyono yang mengenakan kemeja lengan panjang berwarna ungu malam itu didampingi oleh Ibu Ani Yudhoyono, Wakil Presiden Boediono, dan Ibu Herawati Boediono.
Turut hadir dalam acara itu antara lain Ketua MPR Taufik Kiemas, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, Menag Suryadharma Ali, Menko Kesra Agung Laksono, Menteri BUMN Mustafa Abubakar, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, Mensesneg Sudi Silalahi, dan Sekretaris Kabinet Dipo Alam.
Sementara itu, pada perayaan tri Suci Waisak 2011 di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, pada Senin lalu, 16 Mei 2011, Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) Biksu Dutavira Mahastavira mengatakan umat mendoakan para pemimpin negara.
"Secara khusus, umat bersama para bhiksu mendoakan para pemimpin bangsa dan negara agar mampu melaksanakan tugasnya memimpin negeri ini dengan baik," katanya.
Puncak perayaan Tri Suci Waisak untuk memperingati kelahiran Sidharta Gautama, Sang Buddha, yang memperoleh pencerahan sempurna, dan wafat Buddha Gautama yang jatuh pada Selasa, 17 Mei 2011.
Perayaan itu ditandai dengan meditasi dan puja bakti detik-detik Waisak selama beberapa saat mulai pukul 18.08 WIB di pelataran Borobudur, Candi Buddha terbesar di dunia yang juga warisan peradaban dunia itu.
Mereka yang terdiri atas berbagai Dewan Sangha Walubi melakukan kirab antara lain mengusung air suci dan api dharma Waisak dari Candi Mendut melewati Candi Pawon dan berakhir di Candi Borobudur sepanjang sekitar tiga kilometer.
Ia mengatakan, umat Buddha secara khusus merefleksikan makna hidup dalam kebersamaan untuk kemajuan bangsa Indonesia melalui perayaan agung tersebut.
Doa yang dipanjatkan umat Buddha itu, katanya, sebagai upaya mendorong terciptanya pencerahan hati dan pikiran untuk seluruh bangsa agar kehidupan bersama, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara semakin baik pada masa mendatang. Dutavira yang juga salah satu bhiksu senior Walubi itu mengharapkan, pemimpin negara mengambil setiap kebijakan bukan hanya berdasarkan pikiran tapi lebih mendalam yakni bersumber dari suara hati nurani.
Kebijakan yang bersumber dari pikiran, katanya, hanya mendatangkan untung dan rugi. Sedangkan kebijakan berdasarkan hati nurani memberikan kebaikan kepada semua orang dan masa depan hidup bersama yang lebih baik
WDA | ANT





