TEMPO/ Dasril Roszandi
Topik
Penjualan Elpiji Pertamina Menurun
TEMPO Interaktif, Jakarta - PT Pertamina (Persero) mencatat, hingga kuartal pertama tahun ini, penjualan untuk produk Liqufied Petroleum Gas (LPG/Elpiji) masih berada di bawah target yang dipatok oleh perusahaan. Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Djaelani Sutomo memaparkan, penjualan elpiji subsidi 3 kilogram baru mencapai 735.117 metrik ton atau 21 persen dari target penjualan keseluruhan tahun ini yang ditetapkan sebesar 3,5 juta metrik ton.
Salah satu sebabnya adalah hingga kini Pertamina masih belum menerima penugasan program konversi minyak tanah ke elpiji 3 kilogram tahun ini. "Saat ini masih mengerjakan konversi lanjutan dari tahun 2010," ujar Djaelani, Senin, 23 Mei 2011.
Adapun target distribusi untuk paket perdana elpiji 3 kilogram sebagai bagian dari program konversi juga masih jauh dari target yang ditetapkan pada tahun ini, setidaknya 9,3 juta kepala keluarga. "Realisasinya baru 2,2 juta kepala keluarga," katanya.
Hal serupa juga dialami untuk elpiji nonsubsidi karena penjualannya hanya naik tipis dari target yang diharapkan Pertamina, sebanyak 0,23 juta metrik ton. "Konsumsinya mencapai 0,29 metrik ton hingga kuartal pertama," ujarnya. Angka tersebut setara dengan 32 persen dari target penjualan sepanjang tahun ini.
Kurang lakunya produk elpiji tersebut membuat Pertamina tak menangguk keuntungan optimal. Dari penjualan elpiji 3 kilogram sebenarnya diharapkan membawa keuntungan bagi perusahaan minyak pelat merah tersebut sebesar Rp 1,3 triliun. Kenyataannya, selama kuartal pertama, laba perusahaan hanya sebesar Rp 0,8 triliun.
Penjualan elpiji nonsubsidi untuk 12 kilogram malah lebih buruk lagi. Hingga kuartal pertama penjualan produk tersebut justru merugikan Pertamina hingga Rp 1 triliun.
Kerugian itu timbul akibat peningkatan biaya produksi elpiji yang tidak diimbangi dengan peningkatan atau penyesuaian harga jual. Hal ini terutama terjadi di elpiji 12 kilogram yang belum mencapai harga keekonomiannya.
"Makanya untuk elpiji 12 kilogram yang rugi Rp 1 triliun, ini mau dikemanakan, mau disubsidi atau apa? Ini kami tunggu dari pemerintah," kata Djaelani.
GUSTIDHA BUDIARTIE





