Pegadaian. TEMPO/Dinul Mubarok
Topik
Menteri BUMN Dukung Status Pegadaian Jadi Persero
TEMPO Interaktif, Jakarta - Menteri Badan Usaha Milik Negara, Mustafa Abubakar, mengatakan kementeriannya mendukung langkah Perusahaan Umum Pegadaian mengubah statusnya menjadi Perseroan Terbatas. “Kalau serius, mungkin bisa dikejar pada 2011,” kata Mustafa di DPR, Selasa, 24 Mei 2011.
Mustafa memperkirakan jika perubahan status terealisasi, maka pegadaian baru bisa melepas saham ke publik pada 2012. Menurut Deputi Bidang Usaha Jasa Kementerian BUMN, Parikesit Suprapto, proposal pengubahan status Perum Pegadaian masih harus menunggu terbitnya Peraturan Pemerintah.
Tadinya Pegadaian berharap bisa menggelar penawaran umum perdana saham publik (IPO) tahun ini. Perusahaan masih menunggu proses perubahan status dari perusahaan umum menjadi perseroan terbatas.
Menurut Direktur Utama Perum Pegadaian, Suwhono, manajemen sudah mengajukan proposal peningkatan status dari perusahaan umum menjadi persero kepada Kementerian sejak 2010. "Tujuan IPO untuk menambah modal," tuturnya.
Suwhono mengatakan perusahaan juga akan melakukan reorganisasi dengan menambah tim audit di kantor cabang untuk mencegah pembobolan. Sebelumnya, Perum Pegadaian cabang Makassar dibobol sebesar Rp 5,4 miliar. "Kalau sekarang, aparat audit itu kan dari kantor pusat. Nanti kami tambah di cabang."
Sembari menunggu IPO terlaksana, Pegadaian mendapat tambahan modal dari pinjaman yang dikucurkan PT Bank BRI Tbk senilai Rp 500 miliar. Kredit ini adalah kelanjutan dari kerja sama pinjaman beberapa tahun lalu.
BRI memberi bunga kredit sebesar 9,5 persen dengan tenor 12 bulan yang dapat diperpanjang jika pinjaman belum lunas. "Tujuan penggunaan kredit kami juga sama, tapi jalannya beda. Pegadaian pada olah gadai, kami di perbankan mikro," ujar Direktur Utama BRI, Sofyan Baasir .
Bank BRI masih menyisakan likuiditas Rp 10 triliun untuk pendanaan kelembagaan dan infrastruktur tahun ini. Sementara total kredit kelembagaan dan infrastruktur yang sudah disalurkan adalah sebesar Rp 29 triliun.
FEBRIANA FIRDAUS | ANANDA BADUDU | EFRI RITONGA





