foto

TEMPO/Prima Mulia

Pengusaha Sulit Memanfaatkan Kenaikan Harga Kopi Dunia  

TEMPO Interaktif, Jakarta - Pengusaha kopi dalam negeri mengaku sulit memanfaatkan kenaikan harga kopi di sejumlah negara importir. Alasannya, harga kopi dalam negeri juga mengalami kenaikan.

"Pengusaha tidak bisa berbuat banyak menghadapi harga kopi lokal," kata Rachim Kartabrata, Sekretaris Jenderal Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) saat dihubungi melalui telepon selulernya, Kamis 26 Mei 2011.

Rachim mengatakan harga kopi dari petani sebesar Rp 18 ribu per kilogram. Harga tersebut membuat pengusaha sulit untuk memperoleh keuntungan bila diekspor. "Maunya sih harganya lebih rendah beberapa persen ," kata dia.

Harga kopi dunia mengalami kenaikan akibat pasokan dari Vietnam menurun. Salah satu negara eksportir utama kopi ini menderita gagal panen karena cuaca buruk seperti kekeringan dan banjir. Kondisi ini membuat harga kopi robusta di bursa NYSE LIFFE untuk pengiriman Juli 2011 naik menjadi US$ 2.543 per ton. Padahal pekan lalu harganya masih US$ 2.473 per ton.

Pengusaha kedai kopi dunia seperti Starbucks Corp, Maison du Cafe, serta Cafe Pilao juga akan menaikkan harga kopi kemasan rata-rata 17 persen di Amerika Serikat dan 6 persen di Kanada.

Rachim menjelaskan harga kopi dalam negeri kadang jauh lebih tinggi dari harga lokal. Sehingga pengusaha tidak bisa langsung mengambil langkah cepat bila terjadi pergerakan harga global.

Salah satu penyebab harga yang tidak menentu adalah tanaman kopi lokal yang kini tidak produktif. Di sejumlah daerah produsen seperti Sumatera dan Jawa Timur, kebanyakan pohon kopi sudah cukup tua.

Ia berharap pemerintah bisa memperhatikan kondisi ini. Salah satu langkah yang harus yakni menyediakan penyuluhan agar petani kopi mengetahui stategi meningkatkan produksinya. "Tapi kenyataannya tenaga penyuluh tidak ada sekarang," ucapnya.

TRI SUHARMAN