sxc.hu
Menyeberang ke Pulau untuk Halo-halo
TEMPO.CO,Di kala aktivitas pembangunan di sejumlah daerah terus menggeliat, pembangunan di kepulauan terpencil Maya Karimata, Kabupaten Kayong Utara, Kepulauan Pelapis, Kalimantan Barat, tertinggal jauh.
Warga di sana mengaku belum pernah melihat kendaraan roda empat maupun roda dua dalam hidupnya. Bahkan, untuk menelepon, warga kepulauan harus menggunakan motor air untuk mencari sinyal.
"Warga di Kepulauan Pelapis, kalau mau halo-halo, harus naik motor air ke Pulau Genting, jaraknya sekitar satu jam dari pulau kami," kata Eka Harnita, 19 tahun, warga Kepulauan Pelapis Kayong Utara, kepada Tempo, Ahad, 29 Mei 2011. "Itu pun harus ramai-ramai ke sana dan patungan uang untuk beli bahan bakar bensin kapal motor air."
Menurut Eka, baru setahun ini warga Pelapis mengetahui adanya sinyal handphone di Pulau Genting. Itu pun karena ada orang yang tak sengaja bisa menggunakan telepon seluler di pulau itu. "Sejak itu, banyak warga Pelapis yang membeli handphone di Kota Sukadana dan Ketapang," ujarnya.
Meski telepon seluler di desanya tak bisa digunakan, banyak warga memanfaatkan ponsel itu untuk mendengarkan musik dan berfoto-foto. "Handphone dipakai untuk menelepon kalau benar-benar perlu saja karena ongkos ke Pulang Genting mahal, lebih mahal daripada biaya menelepon," ujar Eka.
Bandi, seorang guru SMP di Pulau Pelapis, membenarkan bahwa kehidupan sosial masyarakat di kepulauan itu sangat tertinggal. Di sini tak ada jalan aspal, tak ada mobil maupun motor. "Jarak pulau ini ke kota kabupaten jauh. Jadi, wajar ada warga kami yang tidak pernah keluar pulau, dan tidak pernah melihat dan merasakan naik mobil atau motor," ucap Bandi.
Warga Dusun Tanjung Ru, Pulau Maya, Karimata, juga mengeluhkan sulitnya sinyal telepon untuk berkomunikasi antarpulau. "Warga di sini, kalau mau halo-halo harus mencari sinyal di Desa Padang, jaraknya satu jam dari sini. Tapi, sudah dua bulan ini sinyalnya hilang," ujar Muhammad Ruf.
Padahal, kata Ruf, telepon sangat penting untuk saling memberi kabar jika ada keluarga yang sakit. Menurut dia, warga Tanjung Ru jika mau ke kota kabupaten atau ke Pontianak harus naik kapal motor dengan waktu tempuh 8 jam dan ongkosnya Rp 4 juta.
Bupati Kayong Utara, Hildi Hamid, mengaku sudah meminta perusahaan penyedia jaringan komunikasi memasang tower di daerah kepulauan. "Tapi, jawabannya, mereka beralasan jauh dan tidak efektif sehingga masih menunggu," ujarnya.
HARRY DAYA





