foto

Hatta Rajasa. TEMPO/Aditia Noviansyah

Hatta Tutup Mulut, Adiknya Terlibat Kereta Bekas  

TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Perekonomian dan Kesejahteraan Rakyat Hatta Radjasa enggan mengomentari dugaan keterlibatan adiknya, Hafiz Tohir, dalam bantuan hibah kereta rel listrik (KRL) dari Jepang pada 2006-2007. Hafiz disebut-sebut turut serta melakukan survei ke Jepang bersama Diretur PT Powertel, Jon Erizal, yang juga politikus Partai Amanat Nasional.

"Itu soal materi, silakan tanyakan ke penyidik," kata Hatta Radjasa, Rabu, 1 Juni 2011, usai diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Hatta diperiksa selama hampir dua jam sebagai saksi untuk pertama kalinya dalam dugaan mark- up bantuan hibah KRL asal Jepang tersebut pada 2006 lalu. Bekas Menteri Perhubungan ini datang pukul 07.30 WIB mengenakan batik cokelat lengan panjang dan pulang sekitar pukul 09.15 WIB.

KPK telah menetapkan Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Soemino Eko Saputro, sebagai tersangka dalam kasus ini pada 2009 lalu. Soemino adalah anak buah Hatta di Kementerian Perhubungan waktu itu.

Dugaan mark-up pengadaan KRL bekas ini bermula ketika Negeri Samurai itu memberikan bantuan kereta api listrik kepada Pemerintah Indonesia melalui Departemen Perhubungan pada 2006-2007. Biaya operasional dan mendatangkan kereta bekas ini mencapai Rp 48 miliar. Biaya ini diduga di-mark-up hingga merugikan keuangan negara sekitar Rp 11 miliar.

RUSMAN PARAQBUEQ