foto

TEMPO/Dasril Roszandi

Langka, Warga Sebatik Pakai Premium Malaysia  

TEMPO.CO, Samarinda - Kelangkaan premium di Kalimantan Timur hingga kini masih berlanjut khususnya di luar Kota Samarinda. Di Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan misalnya, warga yang sebagian besar nelayan terpaksa memperoleh premium dari negeri tetangga, Tawau, Malaysia.



Masjidil Warga Sebatik, mengaku kesediaan premium di agen penyalur minyak dan solar (APMS) tak bisa diandalkan. Wal hasil setiap stok di APMS habis tak ada pilihan lain kecuali membeli ke Tawau yang bisa ditempuh dalam waktu 40 menit dengan kapal perahu satu mesin.

Apabila antri, pembelian di negeri Jiran ini dibatasi jika menggunakan jerigen dengan daya tampung 5 liter. Namun jika tidak Masjidil bisa mendapat 20 liter.
"Mau kemana lagi, pakai perahu ke Tawau lah, harganya kurang lebih saja tak sampai 2 ringgit," kata Masjidil di Sebatik, Kamis 2 Juni 2011.



Pulau Sebatik merupakan pulau yang dihuni dua warga negara, Malaysia dan Indonesia. Di pulau ini patok batas darat antara dua negara melintang. Warga di pulau ini sangat familiar dengan Tawau Malaysia. Bahkan disini warga memenuhi kebutuhannya banyak dari Tawau.



Masjidil mengatakan di Sebatik tak ada SPBU. Warga dilayani oleh satu APMS yang menyediakan premium terbatas. Premium disini didatangkan dari Tarakan. Paling lama stok habis dalam 3 hari. Dari Sebatik ke Tarakan butuh waktu 2 jam lebih. Bagi nelayan, biasanya mengisi di Tarakan jika ingin pulang. Tapi jika berangkat, mengisi di Sebatik dulu. "Alternatifnya ya memang dari Tawau," katanya.



Kelangkaan premium juga terjadi Kabupaten Nunukan. Di sini ada tiga SPBU masing-masing dua SPBU di Jl TVRI dan lainnya di sekitar pasar lama. Tapi saat ini yang aktif hanya dua SPBU di Jl TVRI, sedangkan di sekitar pasar lama tutup. "Antreannya ratusan meter," kata Kamil, warga Nunukan.



Di Kabupaten Berau pun mengalami kelangkaan serupa. Antrean di SPBU sudah menjadi pemandangan warga setiap harinya. Di sini harga eceran mencapai Rp 8000 per botol.



Anggota Komisi III DPRD Kalimantan Timur yang juga Ketua DPD Partai Gerindra, Syaifuddin DJ menilai wajar soal pilihan warga perbatasan di Sebatik yang menggunakan premium asal Malaysia. Ia menilai pilihan ini karena pemerintah tak bisa memberikan pelayanan merata hingga ke perbatasan.
"Kalau negara tak bisa melayani lantas bagaimana? Pilihan warga sebatik itu salah satu gambaran nyata hari ini," katanya.




FIRMAN HIDAYAT