foto

Tim Indonesia 7 Summits Expedition Mahitala Unpar. (Rina Widiastuti/TEMPO)

Mahasiswa Parahiyangan Berhasil Capai Puncak Everest

TEMPO.CO, Bandung - Pendakian tim Indonesia Seven Summits Expedition Mahitala Universitas Parahiyangan (ISSEMU) ke Gunung Everest dibayangi maut. Mereka sempat melewati jasad seorang pendaki legendaris asal Jepang menjelang puncak gunung tertinggi di dunia itu.



Kekhawatiran anggota tim, tim pendukung, dan keluarga terkikis saat Broery Andrew mengabarkan lewat radio telekomunikasi ke base camp. "Saya sudah sampai di puncak," kata pendaki berusia 22 tahun itu.

Broery menjadi anggota tim ISSEMU yang pertama kali sampai di puncak Everest pada pukul 05.22 waktu setempat atau pukul 06.37 WIB bersama pemandu Hiroyuki Kuraoka dan sherpa Pemba Nuru. Janatan Ginting, 22 tahun, menyusul rekan kuliah seangkatannya itu pada pukul 06.11 waktu setempat atau pukul 07.26 WIB.



Dua anggota lainnya, Sofyan Arief Fesa, 28 tahun, dan Xaverius Frans, 24 tahun, tiba paling akhir pada pukul 09.45 waktu setempat atau pukul 11.00 WIB. "Mereka tertahan antrean panjang pendaki," kata Broery setibanya di Bandung, Kamis malam, 2 Juni 2011.

Misi pencapaian puncak Everest sebagai gunung ke-6 dari tujuh gunung tertinggi di dunia itu satu per satu diraih seluruh anggota tim pada 20 Mei 2011 lalu, tepat di Hari Kebangkitan Nasional. Selama dua bulan lebih, mereka tinggal dan berlatih di kaki hingga punggung Everest untuk mencapai puncak saat cuaca cerah.



Rencana summit attack pada 14 Mei sempat tertunda karena tiupan angin kencang sehingga mereka harus turun dari camp 3. "Kami bertanya-tanya, bisa tidak kalau cuaca begini terus sampai puncak," ujarnya.

Di saat persiapan ke puncak lalu menunggu cuaca baik selama hampir sepekan di base camp, kabar kematian pendaki lain berembus. Mantan Menteri Luar Negeri Nepal, Shailendra Kumar Upadhyaya, 82 tahun, meninggal begitu tiba di camp 1. Selanjutnya, kata Broery, pendaki asal Jepang, Takashi Ozaki, yang sudah dekat dengan puncak. "Ketika saya naik, saya lihat mayatnya sedang dibawa turun," ujarnya.

Kematian para pendaki itu sempat membuat mereka cemas. "Tapi, tidak bikin down, malah membuat kita harus selalu berhati-hati," katanya. Di rumah, keluarga yang terus mendapat kabar dari posko di Bandung mengaku khawatir. "Saya sudah pasrah, apakah mereka bisa naik dan turun dengan selamat," ujar Lineke Rustam, ibunda Sofyan Arief Fesa. "Ternyata mereka masih utuh berempat," kata Tahan Sihombing Silaban, ayah Broery Andrew menambahkan.

Rektor Universitas Parahiyangan Cecilia Lauw menilai prestasi mahasiswanya itu dan daya tahan tubuhnya luar biasa. Dia mengaku sempat jatuh sakit saat menjemput tim di kaki Gunung Everest setelah turun dari puncak. "Baru turun dari mobil 5 menit, saya jadi sakit 3 hari," ujarnya.



Tim ISSEMU menjadi kelompok pendaki kedua asal Indonesia yang berhasil mendaki puncak Everest setinggi 8.848 meter dari permukaan laut setelah tim Kopassus pada April 1997 lalu.

ANWAR SISWADI