foto

ANTARA/Ismar Patrizki

Selandia Baru Optimistis Indonesia Ratifikasi AANZFTA

TEMPO.CO, Wellington - Menteri Perdagangan Selandia Baru, Tim Groser, mengatakan perjanjian perdagangan bebas antara ASEAN-Australia-Selandia Baru (AANZFTA) merupakan prospek menarik.



"Memberikan sebuah kerangka kerja bagi potensi kerja sama perdagangan dan ekonomi," katanya kepada Tempo selepas membuka Seminar Bisnis AANZFTA di Wellington, 3 Juni 2011.



Menurut bekas duta besar Selandia Baru untuk Indonesia itu, Perjanjian Perdagangan Bebas (FTA) akan kian membuka akses dan investasi. "Perjanjian ini menguntungkan kedua negara yang terlibat hubungan dagang," tuturnya. Ia hakul yakin Indonesia bakal segera meratifikasi perjanjian tersebut. "Kami akan merampungkan detail-detail teknisnya."



Bekas Menteri Perdagangan Thailand Narongchai Akrasanee mencatat bahwa kerja sama perdagangan Perhimpunan Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) berubah setelah Soeharto menjadi Presiden Indonesia pada 1967. "ASEAN berdiri dan beriorientasi pada pasar ekonomi," ujarnya. Basis kebijakan perdagangan ASEAN, kata dia, terdiri dari tiga hal. "Manufaktur, pertanian, dan jasa," kata Narongchai. Ia berpendapat keberadaan AANZFTA memberikan peluang yang lebih besar untuk melakukan perdagangan barang, produk pertanian, dan terakhir jasa. "Tapi, liberalisasi masih jadi ganjalan untuk perdagangan jasa."



Hal itu diakui Clarance van der Wel, Deputi CEO ACG, yang fokus di pendidikan. "Ada dokumen yang bahkan mesti kita tanda tangani 25 kali!" ujar Van der Wel, yang punya sekolah internasional di Indonesia itu. Karena itu, ia berharap keberadaan AANZFTA ini diikuti dengan kampanye di tingkat aparat pemerintahan, sehingga pebisnis atau investor tak merasa membuang-buang waktu dan terhambat oleh birokrasi yang berbelit.



ANDREE PRIYANTO (WELLINGTON)