TEMPO/Nita Dian
Topik
2012, Subsidi Solar Nelayan Naik 50 Persen
TEMPO.CO, Jakarta - Kebutuhan solar untuk nelayan tahun depan diperkirakan mencapai 1,8 juta kilo liter. Selain itu, juga ada pertambahan 30 ribu kiloliter premium. Angka ini naik dari perkiraan kebutuhan pada tahun ini yang mencapai 1,2 juta kiloliter.
Menurut Kepala Badan Pengatur HIlir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Tubagus Haryono, kebutuhan solar itu sudah termasuk untuk budidaya perikanan. Kenaikan itu mungkin karena jumlah nelayan yang bertambah dan aktifitas melaut juga bertambah.
Data itu, kata dia, berdasar rapat dengan Pertamina dan Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP). ''''Kami ingin nelayan lebih produktif, tapi data jumlah nelayan itu kami bergantung pada KKP,'''' kata dia usai rapat dengan Komisi Energi, DPR, Senin (6/6).
Untuk tahun ini, Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi bagi nelayan disalurkan melalui 159 Stasiun Pack Dealer Nelayan (SPDN), 40 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN), 27 Pool Konsumen dan 67 Stasiun pengisian bahan bakar dan terminal BBM.
KKP sendiri, telah membangun SPDN dan SPBN sebanyak 248 unit. Tahun depan akan dibangun lagi sebanyak 75 unit di lokasi pendaratan ikan. ''''Untuk sentra nelayan kecil yang belum ada penyalur BBM, akan dilayani SPBU terdekat yang ditunjuk,'''' kata dia.
Anggota Komisi Energi Satya W Yudha menyatakan, harusnya BPH Migas tak melulu memenuhi subsidi. ''Subsidi harus diatur dan akurat,'''' kata dia. Pasalnya selama ini selalu ada penyimpangan dalam subsidi BBM, baik itu penimbunan atau penyelundupan. ''''Harusnya dicari bagaimana mengatur, bukan bagaimana memenuhinya,'''' kata dia.
Menurut dia, jika tak diatur, maka anggaran makin tergerus oleh subsidi. Setya menyatakan, untuk subsidi BBM 2012, mencapai sekitar Rp 90 triliun dan untuk listrik mencapai Rp 40 triliun. Sedangkan pendapatan dari Migas ''hanya'' Rp 200 triliun.
Satya menyatakan, selama ini subsidi BBM hanya dinikmati pemilik kendaraan, padahal semua warga berhak menikmati subsidi. Setya lebih sepakat subsidi diberikan langsung kepada orangnya. Menurut dia, subsidi model bantuan langsung tunai, lebih akurat dari pada subsidi model disparitas harga.
NUR ROCHMI





