ANTARA/FB Anggoro
Topik
Jambi Akan Miliki Habitat Khusus Gajah
TEMPO.CO, Jambi - Salah satu upaya yang dianggap paling tepat untuk mengatasi adanya konflik antara gajah dan manusia adalah dengan cara membuat kawasan khusus habitat gajah. Hal ini kini tengah diupayakan oleh Pemerintah Provinsi Jambi.
"Kita berupaya untuk mencari jalan terbaik agar gajah-gajah yang ada tetap lestari dan tidak terjadi konflik dengan manusia, terutama di kawasan Kabupaten Sarolangun dan Batanghari," kata Trisiswo, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi, Selasa 7 Juni 2011.
Lokasi yang dipilih tersebut, yakni di dalam kawasan hutan seluas 101 ribu hektare lebih, milik PT Restorasi Ekosistem Konservasi Indonesia (REKI). "Saya sudah bicarakan itu dengan pihak PT REKI dan mereka telah mengamininya," ujarnya.
Langkah ini diambil setelah adanya pengaduan dari warga Tranmigrasi Sosial Dusun III Spintun, Kecamatan Pauh, Kabupaten Sarolangun. Warga mengaku sejak Januari lalu sedikitnya 200 hektare kebun karet mereka rusak akibat amukan 17 ekor gajah.
"Setelah saya menurunkan tim ke lokasi kejadian, ternyata kawanan gajah tersebut jauh dari pemukiman penduduk dan kebun warga itu memang dibuat di dalam kawasan hutan produksi. Warga sendiri sudah melanggar ketentuan," kata Trisiswo.
Menurut Trisiswo, agar gajah tak masuk kawasan penduduk, ada dua cara yang bisa ditempuh, yakni dengan cara memasang kabel listrik atau dengan membuat kanal di sepanjang perbatasan.
"Karena di sekeliling rencana habitat baru tersebut banyak permukiman warga dan kebun milik masyarakat, maupun milik perkebunan,” katanya. Kawasan habitat gajah itu, kata dia, bisa dibangun di hutan tanaman industri karet PT Alam Lestari Nusantara
Feri Irawan, Ketua LSM Perkumpulan Hijau Jambi, salah satu LSM yang mengadvokasi warga Spintun, mengakui jika warga Spintun telah merambah kawasan hutan produksi untuk dijadikan kebun. Namun menurut dia, masyarakat tidak salah karena sebelumnya tidak mengetahui jika kawasan yang digarap warga itu dalam kawasan hutan produksi.
Darman Ginting, Manajer PT Alam Lestari Nusantara (ALN) membantah jika disebut mengamuknya kawanan gajah tersebut akibat aktivitas pembukaan lahan yang dilakukan pihaknya. Menurutnya, lokasi izin usaha HTI karet 10.500 hektare milik PT ALN merupakan habitat gajah. “Lokasi kami berupa dataran tinggi dan berbukit-bukit, sedangkan gajah menyukai dataran rendah," ujarnya.
Darman mengakui pihaknya menyambut baik atas rencana pemerintah melalui BKSDA tersebut. Pasalnya, bukan hanya pihaknya yang akan terbantu, tapi juga seluruh warga masyarakat yang menggantungkan hidup di sekitar kawasan itu.
SYAIPUL BAKHORI





