foto

TEMPO/Yosep Arkian

Kementerian Energi Ragu Usulkan Asumsi Makro 2012

TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) masih ragu-ragu dalam mengusulkan asumsi makro RAPBN 2012 tentang harga minyak mentah Indonesia (ICP) dan angka produksi serta lifting minyak nasional.



Bukannya memberikan satu angka pasti untuk asumsi makro, Kementerian Energi malah memberikan kisaran yang cukup lebar, baik untuk harga minyak maupun produksinya. Menteri ESDM, Darwin Zahedy Saleh, mengusulkan untuk ICP berada di kisaran US$ 75 - 95 per barel, sementara produksi minyak di kisaran 950 ribu-970 ribu barel per hari.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas, Evita Herawati Legowo, memaparkan Kementerian memilih angka kisaran karena masih tahapan pertama dalam persetujuan asumsi makro. "Jadi, kita juga tidak bisa memberi prediksi yang lebih tepat," ujarnya, Rabu 8 Juni 2011. Angka kisaran ini juga masih akan diajukan oleh Kementerian Energi sampai Badan Anggaran nanti dan baru akan lebih tajam dan menuju angka yang pasti pada saat penyampaian Nota Keuangan.

Kisaran dalam ICP diberikan karena proyeksi harga minyak tahun depan masih penuh dengan ketidakpastian. Evita menjelaskan, hasil pooling dan analisis dari para ahli dunia juga masih beragam. Para spekulan pelaku bursa komoditas, misalnya, memperkirakan harga minyak masih ada kemungkinan dapat melambung di atas US$ 100 per barel apabila pasokan minyak dari OPEC terganggu."Tetapi ada juga yang bilang harga minyak dunia akan turun," paparnya.

Sementara untuk produksi, kisaran yang diajukan oleh Kementerian Energi berbeda dengan perhitungan Badan Pelaksana Hulu Minyak dan Gas Bumi (BPMigas). BP Migas mengajukan kisaran produksi di angka 930-950 ribu barel per hari, itupun sudah dengan upaya ekstra optimal. Sementara Kementerian ESDM memasang kisaran di angka 950-970 ribu barel per hari. "Tapi, kan, angka bawah kita sudah sama dengan angka atas yang diajukan BPMigas," kilahnya.

Menanggapi hal tersebut, Director of Center for Petroleum and Energy Economics Studies (CPEES), Kurtubi, menyatakan angka tersebut tidak realistis, terutama untuk perkiraan harga minyak. "Karena tahun 2012 harga minyak dunia itu masih di atas US$ 100 per barel," ujarnya. Apalagi proyeksi kebutuhan tahun depan masih meningkat dan kondisi geopolitik Timur Tengah masih belum stabil. "Kalau mau kasih kisaran harusnya di angka US$ 95-US$ 120 per barel," tegasnya.

Target produksi yang dipatok di kisaran 950-970 ribu barel per hari juga dinilai masih terlalu sulit untuk dicapai."Soal produksi apa yang waktu itu kita sampaikan di DPR itulah yang bisa kita capai," ujar Vice President Indonesian Petrolium Association (IPA), Sammy Hamzah, ketika dihubungi oleh Tempo, Rabu 8 Juni 2011. Seperti diketahui, pada rapat bersama dengan Komisi Energi pekan lalu para Kontraktor telah mengaku tidak sanggup untuk mengejar target produksi minyak yang dipatok oleh pemerintah pada tahun ini.

Secara keseluruhan, terdapat setidaknya 29 KKKS yang belum mampu mencapai target produksi sesuai APBN 2011. Produksi yang dapat dicapai optimal hanya sekitar 930 ribu barel per hari.

GUSTIDHA BUDIARTIE