Petugas Tim Balai POM provinsi NAD mengumpulkan produk minuman kaleng impor asal Malaysia saat razia di salah satu pusat perbelanjaan di Banda Aceh. Senin (22/9). ANTRARA/Ampelsa
Topik
Pengusaha Kewalahan Hadapi Produk Makanan Malaysia
TEMPO.CO, Jakarta - Impor makanan dan minuman asal Malaysia semakin membanjiri pasar lokal. "Malaysia akan semakin menguasai pasar dalam negeri selama daya saing produk lokal tak ditangani optimal," kata Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia Franky Sibarani di Jakarta, Selasa, 14 Juni 2011.
Selama periode Januari-Mei nilai impor mencapai US$ 20,67 juta. Padahal pada periode yang sama tahun lalu US$ 11,73 juta. Artinya, ada kenaikan impor 76,17 persen. Nilai impor dari Malaysia pada Januari-Mei mencapai 23,08 persen dari keseluruhan impor makanan dan minuman. Nilai impor makanan dan minuman pada lima bulan pertama 2011 mencapai US$ 89,56 juta.
Kenaikan nilai impor pada Januari-Mei 2011 juga mengalami kenaikan sebesr 17,02 persen dibandingkan tahun lalu. Sementara itu, impor makanan dan minuman juga banyak yang berasal dari Cina. Impor makanan dan minuman dari Cina pada Januari-Mei 2010 mencapai US$ 11,36 juta. Nilai impor menurun dibandingkan tahun lalu yang hanya US$ 12,18 juta.
Membanjirnya produk impor dari Malaysia sebenarnya sejak jauh hari sudah diisyaratkan oleh para pengusaha. Pada akhir April lalu, Gapmmi mengeluhkan maraknya impor ilegal terutama di daerah perbatasan dengan negara tetangga. Impor ilegal itu menambah tekanan kalangan industri yang sedang menghadapi membanjirnya produk impor Cina di pasar domestik.
Franky mengharapkan pemerintah memperketat pengawasan untuk mencegah impor ilegal. Impor ilegal itu sebagian masuk dari pelabuhan tikus atau masuk dengan izin yang berbeda. "Ada yang masuk dengan izin mainan, padahal itu makanan seperti mainan anak-anak yang berisi permen yang marak dijual di pasaran sekarang," ujarnya.
EKA UTAMI APRILIA





