Seorang pegawai Kantor Unit Pegadaian Bukateja Purbalingga sedang memeriksa berkas gadai berupa traktor. TEMPO/Aris Andrianto
Topik
Ramai-ramai Gadaikan Traktor Demi Sekolah Anak
TEMPO.CO, Purbalingga - Siswanto, 40 tahun, warga Desa Kebanaran, Kecamatan Mandiraja, Banjarnegara, terlihat lelah. Seorang diri ia membawa traktor dari rumahnya melalui jalan raya. Tujuannya hanya satu, Kantor Pegadaian Unit Bukateja Purbalingga, yang berjarak sekitar 20 kilometer dari rumahnya.
"Anak saya mau masuk SMP, tidak ada biaya untuk mendaftar. Makanya traktor ini saya gadaikan," ujar Siswanto, sesaat sebelum memasuki Kantor Pegadaian Bukateja, Selasa, 14 Juni 2011.
Siswanto berangkat dari rumahnya pukul 06.00. Ia tak bisa menyewa mobil bak terbuka untuk membawa traktornya itu. Namun, ia tak kehabisan akal, disambungnya traktor miliknya dengan sebuah gerobak. Di gerobak itulah ia mengendarai traktornya menyusuri jalan raya hanya dengan kecepatan 20 kilometer per jam.
Pagi itu, ia menggadaikan traktornya seharga Rp 7,8 juta. Uang itu rencananya akan digunakan untuk biaya pendaftaran sekolah anaknya. "Biaya sekolah saat ini mahal, jadi saya harus mempersiapkan diri agar nanti tidak kebingungan mencari biaya sekolah," katanya.
Petani lainnya, Muhtarom, 39 tahun, dari Pekuncen Banyumas juga menggadaikan traktornya di Pegadaian Bukateja. "Di Banyumas tidak ada pegadaian yang mau menerima gadai traktor," katanya.
Untuk membawa traktornya, ia menyewa mobil bak terbuka. Traktornya ia gadaikan seharga Rp 7 juta. Ia mengaku uang gadai tersebut akan digunakan untuk membiayai pendaftaran anaknya yang akan masuk sekolah.
Saat ini, kebetulan sawah Muhtarom sudah selesai dibajak dan tinggal ditanami benih padi. Ia sendiri mengandalkan hasil panen sawahnya untuk menebus traktornya itu.
Kepala Pengelola Unit Pegadaian Bukateja, Sunarti, mengatakan bahwa sudah menjadi kebiasaan petani untuk menggadaikan traktornya menjelang tahun ajaran baru. "Mungkin hanya di pegadaian ini yang masih menerima gadai traktor," terang Sunarti.
Ia menambahkan, petani yang menggadaikan traktornya tidak hanya berasal dari Purbalingga. Petani dari daerah lain juga ikut menggadaikan di kantornya itu seperti petani dari Banyumas, Banjarnegara, bahkan Cilacap.
Masih menurut Sunarti, menjelang tahun ajaran baru, biasanya ada sekitar 50 traktor yang diterima kantornya. Nilai gadainya bermacam-macam, mulai dari Rp 2-7 juta, tergantung kondisi traktor yang digadaikan. Semakin bagus kondisinya, maka semakin mahal nilai gadainya.
Ia mengatakan biasanya petani akan mengambil traktornya setelah dua hingga empat bulan. Selama ini, imbuhnya, belum ada petani yang tidak bisa membayar uang tebusan traktornya. "Mereka selalu tepat waktu dan akan kembali dengan traktor yang sama pada kesempatan berikutnya," imbuhnya.
Di kantor itu, traktor yang digadai diletakkan di gudang belakang kantor. Di gudang itu, tampak puluhan traktor diparkir dengan rapi. Sementara, di gudang lainnya, benda gadai, seperti televisi, sepeda onthel, dan sepeda motor disimpan dengan rapi.
Tak hanya di Pegadaian Bukateja, Kantor Pegadaian Purwokerto juga banyak dikunjungi masyarakat menjelang tahun ajaran baru ini. "Rata-rata per hari mencapai 1.000 orang yang datang ke pegadaian," terang Kepala Kantor Pegadaian Purwokerto Mahmud Manaf.
Mahmud mengatakan bahwa transaksi di pegadaian menjelang masa pendaftaran sekolah mengalami kenaikan. Ia menyebutkan pada Mei tercatat ada 8.000 transaksi dengan nilai sekitar Rp 12 miliar. Padahal, pada bulan sebelumnya, transaksi yang tercatat hanya mencapai Rp 9 miliar.
Ia memprediksi pada Juni-Juli ketika masa pendaftaran sekolah dimulai, transaksi di pegadaian akan meningkat hingga 50 persen. "Seperti pada tahun sebelumnya, Juni-Juli akan banyak warga menggadaikan barangnya untuk keperluan sekolah," katanya.
ARIS ANDRIANTO





