foto

Sedikitnya 20 wanita pekerja seks komersial di Panti Rehabilitasi Wanita Tuna Susila Kediri, Jawa Timur mengikuti pelatihan fotografi, Selasa, (146). Kemampuan ini diharapkan berguna bagi mereka sebagai sumber penghasilan. TEMPO/Hari Tri Wasono

Pekerja Seks Dilatih Memotret  

TEMPO.CO, Kediri - Kemampuan memotret tak lagi didominasi kalangan fotografer profesional dan wartawan. Para pekerja seks komersial (PSK) di Kediri, Jawa Timur, ramai-ramai mempelajari teknik memotret sebagai sandaran profesi setelah pensiun nanti.

Kegiatan ini dilakukan para perempuan yang menghuni rumah Rehabilitasi Sosial Tuna Susila Jawa Timur di Jalan Semeru Kecamatan Mojoroto, Kediri, Jawa Timur. Para pekerja seks komersial mendapat pelatihan memotret dari komunitas fotografer Kediri yang dengan sukarela menularkan kemampuan memotret secara gratis.

Pelatihan memotret yang dilakukan di sela kegiatan menjahit dan memasak ini cukup diminati para pekerja seks. Sebanyak 20 dari 70 perempuan penghuni panti tampak serius mengikuti kelas memotret yang disampaikan Adhi Kusumo, anggota Komunitas Ngopi-ngopi (Kanopi), sebuah organisasi yang didirikan para fotografer Kediri.

Dengan bahasa sederhana yang mudah diterima mereka, Adhi memberikan teknik-teknik dasar memotret yang bisa dilakukan dengan kamera ponsel. Hal ini untuk menggugah minat fotografi para perempuan ini yang hampir seluruhnya tak memiliki kamera. "Siapa tahu kelak ilmu ini bisa jadi pekerjaan bagi mereka," kata Adhi di sela pelatihan, Selasa, 14 Juni 2011.

Menariknya, selain teknik dasar memotret, Adhi juga menyentuh nilai kemanusiaan para perempuan ini untuk lebih berani menghadapi kesulitan ekonomi. Hal ini dilakukan dengan menayangkan seri foto tentang kehidupan pekerja ludruk di Surabaya, yang berjuang demi keluarga dengan imbalan Rp 3.000 per hari.

Ketika himpitan ekonomi makin mendera, tak sedikit dari mereka yang melacurkan diri. "Masih banyak orang yang jauh lebih sengsara dari kalian, berjuanglah untuk hidup dengan pekerjaan halal," kata Adhi.

Untuk memperdalam kemampuan ini, rencananya pelatihan tersebut akan dilakukan sepekan sekali di panti rehabilitasi itu. Hal ini juga menambah program pelatihan para pekerja seks yang selama ini hanya dibekali kemampuan memasak dan menjahit.

Panti rehabilitasi ini menampung puluhan PSK dari seluruh daerah di Jawa Timur. Mereka dikirim Dinas Sosial setempat dan  merupakan hasil tangkapan petugas Satuan Polisi Pamong Praja.

Istiana, salah satu peserta pelatihan mengaku senang dengan program ini. Seumur hidup perempuan muda ini belum pernah berpikir menjadi fotografer. "Tapi, sekarang saya mau beli kamera biar bisa motret manten," katanya lalu tertawa.

HARI TRI WASONO