foto

TEMPO/Dinul Mubarok

BRI Syariah Tolak Investor Arab dan Malaysia  

TEMPO.CO, Jakarta - Investor Asing minati Bank BRI Syariah. Namun, bank ini menolak, karena masih ingin konsisten menjadi milik bank induk, yakni Bank BRI.

"Ada Middle East (Timur tengah). Ada Malaysia," ujar Direktur Utama Bank BRI Syariah Ventje Rahardjo saat ditemui wartawan di sela seminar Masyarakat Ekonomi Syariah, Rabu (15/6). Bahkan, bank mengaku sudah berdikusi dengan para calon investor tersebut.

Tapi, keinginan dari investor asing ini kandas. Sebab Bank BRI Syariah memutuskan untuk tetap konsisten menjadi milik Bank BRI secara penuh. "BRI syariah sementara masih ingin tetap menjadi miliknya BRI. Kebutuhan modalnya masih dipenuhi, kebutuhan modal juga belum ada yang mendesak. Jadi enggak ada persoalan dengan modal," kata Ventje.

Sebelumnya, minat asing terhadap bank syariah lokal semakin meningkat. Pekan lalu, Bank Muamalat dikabarkan akan diakusisi oleh Standard Chartered Bank. Meski manajemen Bank Muamalat membantah hal ini.

Komisaris Bank BNI Syariah Sofyan S Harahap pernah mengungkap, saat ini sejumlah perbankan syariah asing melakukan ekspansi ke Indonesia. Director Islamic Economic and Finance (IEF) Universitas Trisakti ini melanjutkan, setelah Maybank dari Malaysia, beberapa bank asing berminat menanamkan investasinya di Indonesia salah satunya dari Kuwait. "Cabang bank syariah Kuwait sudah ada sejak tahun lalu, sekarang mereka masih melirik. Tapi saya yakin akhir tahun ini," ujarnya.

Bank lainnnya, Dubai Islamic Bank sudah mendapat ijin dari bank sentral. Bank lainnya adalah dari Singapura. "Untuk DBS Islamic Development Bank belum ada tanda-tanda sih, tapi bank ini menciptakan lingkungan yang kondusif dengan bank syariah di lingkungannya," kata Sofyan.

Kemudian Citibank yang sudah mulai masuk ke Malaysia, ia perkirakan juga akan segera ekspansi ke Indonesia. Serta ANZ dan Standard Chartered Bank. Selain itu ada juga HSBC dari Inggris yang memiliki bank yang syariah dengan aset yang paling besar.

FEBRIANA FIRDAUS