foto

Kuota Impor Daging Sapi Tetap

"Ada yang Salah dengan Tata Niaga Sapi"

TEMPO.CO, Purwokerto - Dihentikannya ekspor sapi Australia ternyata tidak membuat harga sapi naik. Hal ini membuktikan bahwa ada tidaknya sapi impor tidak mempengaruhi stok daging sapi nasional.

“Kalau harga tidak naik, berarti memang kehadiran sapi impor sebenarnya tidak diperlukan,” terang Dosen Pengajar Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, Muhammad Bata, Kamis, 16 Juni 2011.

Bata selama ini menjadi dosen yang memiliki beberapa peternak sapi binaan di beberapa daerah. Mereka menggemukan sapi dengan memberikan pakan ternak berupa jerami fermentasi yang ditemukan oleh Bata.

Masih menurut Bata, saat ini harga sapi masih belum beranjak naik walaupun ada penghentian ekspor dari Australia. Ia mengatakan bahwa harga sapi hidup masih relatif sama dengan harga sebelumnya, yakni Rp 21 ribu per kilogram.

Menurutnya, harga ideal sapi seharusnya Rp 24 ribu per kilogram. Selama ini, kata dia, peternak binaannya memang hanya menggemukkan sapi lokal. Menurutnya, sapi lokal juga bisa besar seperti sapi Brahman, asal benar dalam pemeliharaannya.

Sapi yang ia besarkan bisa menghasilkan bobot sebesar 300 kilogram dengan harga jual Rp 7,2 juta. Dengan harga seperti itu, kata dia, peternak sapi lokal sudah bisa meraup untung.

Ia menambahkan, saat ini sebenarnya sapi lokal Indonesia masih melimpah. Hal itu didasarkan pada tidak adanya peningkatan harga ketika Australia menghentikan ekspor sapinya. “Saya kira memang ada yang tidak beres dengan tata niaga sapi Indonesia. Sapi lokal sebenarnya cukup untuk kebutuhan daging Indonesia,” imbuhnya.

Belum adanya dampak bagi petani lokal juga dirasakan oleh Dirin, 35 tahun, peternak sapi lokal di Desa Mirit Kebumen. “Harga masih anjlok seperti dulu,” katanya.

Ia mengatakan bahwa harga satu ekor sapi siap potong dengan bobot hidup sekitar 250 kilogram masih dihargai Rp 6 juta. Menurutnya, kerugian peternak disebabkan antara harga penjualan dengan ongkos produksi tidak seimbang. Ia mengatakan sapi bakalan yang dibelinya 8 bulan lalu dengan harga Rp 4,5 juta, setelah besar dan siap potong hanya laku dijual Rp 6 juta.

Keuntungan sebesar Rp 1,5 juta itu tidak sebanding dengan biaya mencari rumput untuk pakan sapi. “Ibaratnya, satu bulan kami hanya mendapat upah Rp 125 ribu,” katanya.

ARIS ANDRIANTO