Aviliani Pesimistis Bank Mutiara Akan Terjual Rp 6,7 Triliun
TEMPO.CO, Jakarta - Pengamat ekonomi Avilliani pesimistis PT Bank Mutiara Tbk akan terjual Rp 6,7 triliun. Ia ragu akan kemauan bank lain untuk membeli Bank Mutiara lantaran harga jualnya terlampau mahal.
“Lebih baik buat tambah modal di bank sendiri,” kata Aviliani pada Sabtu malam, 18 Juni 2011.
Menurut Aviliani, laporan keuangan Bank Mutiara pun tak cukup membuat investor tergiur membeli bank eks Century tersebut. “Asetnya hanya Rp 11 triliun,” katanya.
Sebelumnya, Lembaga Penjamin Simpanan selaku pemilik 99,9 persen saham berencana mengumumkan penjualan Bank Mutiara pada Agustus mendatang. LPS berharap Mutiara terjual dengan harga Rp 6,7 triliun, sesuai dengan besaran dana yang dikeluarkan LPS pada saat mengambil alih Bank Century pada 2008.
Jika harga jual Mutiara Agustus mendatang tidak sesuai dengan harga yang diharapkan, LPS akan mengulang kembali proses penjualan pada 2012.
Aviliani mengusulkan Mutiara menyelesaikan masalahnya melalui mekanisme kontrak manajemen. Maksudnya, manajemen Bank Mutiara diserahkan pada bank lain yang lebih kuat sisi keuangannya.
“Kalau bisa bank BUMN (badan usaha milik negara),” katanya. Dengan cara itu, Mutiara lebih mudah mendapatkan kembali kepercayaan publik yang berimplikasi pada penguatan bank.
“Bank yang dikontrak untuk urus manajemen mendapat komisi sekian persen,” ujarnya.
Sebelum berganti nama menjadi Mutiara, bank ini bernama Bank Century. Sejak 21 November 2008, kepemilikan Bank Mutiara, yang pada saat itu masih bernama Century, diambil alih oleh LPS lantaran kekurangan likuidutas. Total kepemilikan saham LPS di Mutiara mencapai 99,96 persen, sisanya dimiliki publik.
Hingga Maret 2011, aset Mutiara mencapai Rp 11,6 triliun, tumbuh 41 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sedangkan dana pihak ketiga pada bulan Mei 2011 mencapai Rp 10,1 triliun, tumbuh 57 persen year on year.
ANANDA BADUDU





