foto

sxc.hu

140 Negara Akan Ikut Konferensi Kota Layak Anak

TEMPO.CO, Surakarta - Sebanyak 140 negara dipastikan akan menghadiri Konferensi Internasional Kota Layak Anak se-Asia Pasifik di Surakarta, 30 Juni hingga 2 Juli mendatang.

Dalam konferensi itu, Surakarta akan mendeklarasikan komitmennya untuk menghilangkan reklame rokok.

Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana, Widdi Srihanto, mengatakan dalam konferensi internasional itu juga akan hadir 200 anak berprestasi dari seluruh Indonesia.

Mereka akan memeriahkan acara pembukaan bersama 2.500 anak dari berbagai sanggar yang ada di Jawa Tengah melalui acara karnaval Kota Layak Anak. “Ada beberapa program dari Surakarta yang akan dipresentasikan dalam konferensi itu,” kata Widdi, Senin 20 Juni 2011.

Sejumlah program itu di antaranya adalah Taman Cerdas, Puskesmas Ramah Anak, Kartu Insentif Anak, dan Bantuan Pendidikan Masyarakat Surakarta.

Dia mengakui belum semua program yang akan dipresentasikan telah mendapatkan hasil yang memuaskan. Seperti Kartu Insentif Anak misalnya, hingga saat ini program itu belum berjalan merata.

Dari lebih 100 ribu anak yang ada di Kota Surakarta, baru sekitar 10 ribu anak yang memiliki kartu tersebut. Kartu Insentif Anak merupakan kartu yang bisa digunakan oleh anak untuk mendapatkan layanan khusus di beberapa fasilitas layanan umum itu. “Berbagai kendala yang dihadapi dalam mengembangkan kota layak anak juga menarik untuk didiskusikan,” kata Widdi.

Dalam konferensi itu, Surakarta juga akan menegaskan sikapnya mengenai keberadaan iklan rokok. “Wali Kota siap untuk membuat komitmen dalam konferensi itu,” kata Widdi. Menurut dia, Surakarta akan menghapuskan secara bertahap keberadaan iklan rokok yang mendominasi reklame yang ada di kota itu.

Ketua Asosiasi Perusahaan dan Praktisi Periklanan Solo (ASSPRO), Muhammad Qoyyim, menyatakan dukungannya terhadap program penghapusan iklan rokok. “Pengusaha periklanan juga siap mewujudkan Surakarta sebagai kota layak anak,” kata Qoyyim.

Qoyyim menyatakan jika penjualan reklame di Surakarta masih didominasi oleh iklan rokok. “Hampir separuh reklame dihiasi oleh iklan dari perusahaan rokok,” katanya. Sementara itu, iklan perusahaan telekomunikasi menempati posisi kedua.

Pelarangan iklan rokok tersebut, menurut dia, tidak akan mengganggu penjualan perusahaan periklanan di Surakarta. “Kebanyakan perusahaan rokok menggandeng biro iklan dari Jakarta,” kata Qoyyim.

AHMAD RAFIQ