foto

Penumpang memadati Kereta Api Listrik AC jurusan Jakarta-Bogor di Stasiun Cikini, Jakarta, Kamis (31/3). PT Kereta Api Indonesia membatalkan aturan single operation, yang mengharuskan seluruh rangkaian kereta Jabodetabek berhenti di setiap stasiun. TEMPO/Tony Hartawan

Presiden Diajak Naik KRL  

TEMPO.CO, Jakarta - Komunitas pengguna kereta rel listrik, KRL Mania, mengirim surat terbuka untuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dalam surat itu, mereka mengajak Yudhoyono naik KRL. "Kami sangat mengharapkan agar Bapak bersedia menerima ajakan kami," tulis komunitas itu dalam suratnya kemarin.

Dari rumahnya di Cikeas ke Istana Negara, tulis KRL Mania, Presiden Yudhoyono bisa naik dari Stasiun Depok dan turun di Stasiun Gambir. Menurut KRL Mania, jika presiden secara rutin naik KRL maka akan mendorong para menteri, pemerintah daerah, PT Kereta Api, dan anak perusahaannya, PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ), menjadikan KRL sebagai tulang punggung angkutan massal demi mengurangi kemacetan.

Juru bicara KRL Mania, Agam Fatchurrochman, mengatakan bahwa surat terbuka itu dibuat sebagai bentuk protes para pengguna kereta terhadap kebijakan sepihak PT KCJ dalam menentukan tarif KRL. Mulai 2 Juli 2011, KCJ akan menerapkan operasi tunggal KRL Commuter Line dengan tarif Rp 9.000 dan Rp 8.000.

"Keputusan itu sebelah pihak saja," kata Agam setelah bertemu dengan juru bicara Kepolisian Daerah Metro Jaya, Komisaris Besar Baharudin Djafar, di Polda Metro Jaya kemarin.

Menurut Agam, KCJ seharusnya mengajak masyarakat pengguna KRL berembuk soal perubahan tarif. Sebab, kata dia, pengguna KRL kebanyakan masyarakat kelas ekonomi menengah ke bawah sehingga kenaikan tarif lebih dari 70 persen itu cukup memberatkan.

Protes yang sama dilancarkan oleh Asosiasi Penumpang Kereta (Aspeka). Kelompok ini menilai kenaikan tarif belum bisa dilakukan selama KCJ belum memperbaiki pelayanan.

Kepala Daerah Operasional I PT Kereta Api Purnomo Radiq mengatakan tarif untuk sistem operasi tunggal tak akan berubah. Menurut dia, sampai sejauh ini belum ada instruksi atau pembicaraan untuk mengklasifikasikan tarif untuk jarak dekat dan jauh.

"Untuk jarak dekat, misalnya satu-dua stasiun, mungkin penumpangnya mending naik angkot saja. Kasihan kan sopir angkotnya nanti enggak kebagian penumpang," kata Purnomo seusai acara diskusi di Jakarta kemarin.

Menurut Purnomo, tarif baru tersebut sudah diturunkan dari perhitungan PT KAI. Untuk Bogor-Jakarta, kata dia, seharusnya tarifnya Rp 9.559 untuk menutupi biaya operasional dasar kereta setiap melintas. "Sama seperti taksi, bus, dan moda transportasi lainnya, perlu ada penghitungan biaya operasional dasar," katanya.

Purnomo mengatakan peningkatan harga tiket kereta api ini tetap lebih murah dibandingkan jika penumpang memilih moda transportasi lain, misalnya bus. "Bogor-Kampung Rambutan tarifnya sekitar Rp 10 ribu," kata dia.

Purnomo menambahkan, pihaknya akan menambah rangkaian kereta dari 444 menjadi 460 dalam sehari.

Ketua Dewan Transportasi Kota Jakarta Azaz Tigor Nainggolan menyayangkan keputusan PT Kereta Api yang menetapkan kebijakan tarif tunggal. "Kalau kebijakan sistem operasi tunggal kami dukung, tapi tidak dengan tarif tunggal," ujarnya.

Menurut Azaz, seharusnya kenaikan tarif itu tidak ditetapkan secara sepihak. Sebab, setiap kebijakan yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat seharusnya didiskusikan terlebih dahulu melalui sebuah konsultasi publik.

CORNILA DESYANA | ARYANI KRISTANTI | IRA GUSLINA | SUSENO