foto

TEMPO/Tony Hartawan

Harga Gas Naik Akhir Bulan  

TEMPO.CO, Jakarta - PT Pertamina akan menaikkan harga jual elpiji tabung 50 kilogram sebesar 10 persen akhir bulan ini. Setelah itu, menyusul kenaikan harga jual gas tabung 12 kilogram. "Kementerian Badan Usaha Milik Negara sudah memberi lampu hijau," kata juru bicara PT Pertamina, Mochammad Harun, kemarin.

Ia menyatakan kenaikan harga terpaksa dilakukan karena Pertamina terus menanggung kerugian gara-gara menjual gas di bawah harga wajar. Tahun lalu, Pertamina tekor Rp 3,24 triliun dan kuartal I tahun ini tekor Rp 1 triliun.

Pertamina menghitung harga wajar gas sekitar Rp 8.500-9.000 per kilogram. Padahal, gas tabung 50 kilogram masih dijual Rp 7.355 per kilogram dan tabung 12 kilogram dijual Rp 5.850 per kilogram.

Meski sudah disetujui oleh Kementerian BUMN, Harun mengakui Pertamina belum berbicara dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. "Pekan ini kami bahas dengan Dirjen Migas," kata dia.

Saat dihubungi, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Evita H. Legowo menyatakan Kementerian Energi belum menyetujui rencana kenaikan tersebut. "Belum sepakat," kata dia singkat melalui pesan pendek.

Pekan lalu, Evita meminta Pertamina tidak menaikkan harga elpiji lantaran akan mempengaruhi perekonomian. "Memang ada permintaan dari Pertamina, tapi kami minta tahan dulu," kata Evita.

Soal kerugian penjualan elpiji pernah pula dipaparkan di hadapan Dewan Perwakilan Rakyat oleh Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Djaelani Sutomo. Kerugian timbul karena peningkatan biaya produksi tidak diimbangi dengan penyesuaian harga jual. Faktor lainnya adalah penjualan gas tabung 3 kilogram tidak cemerlang.

Hingga kuartal pertama tahun ini, penjualan produk itu masih sebesar 735.117 metrik ton atau hanya 21 persen dari target penjualan sepanjang tahun yang ditetapkan sebesar 3,5 juta metrik ton.

Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) cabang Jakarta meminta kenaikan harga gas dilakukan bertahap. Ketua Divisi Restoran PHRI Susanto menuturkan kenaikan harga gas terasa berat jika dilakukan sekaligus. "Kami berharap bisa dilakukan dalam dua tahap, dua kali enam bulan," ujarnya.

Sikap lebih tegas disampaikan PHRI Yogyakarta. Koordinator Promosi PHRI Yogyakarta Djulkarnain berujar kenaikan harga gas, yang merupakan komponen utama selain listrik dan air, kian membebani biaya produksi. "Padahal, sekarang saja sudah dipersulit daging impor," ujarnya.

Djul berharap pemerintah lebih bijak dalam menaikkan harga. Pasalnya, kenaikan harga gas berpotensi mendorong kenaikan harga jual makanan. Dia pun khawatir kenaikan harga gas akan memicu penyelewengan. "Bisa jadi, untuk mendapatkan gas murah, pengoplosan gas rumah tangga makin marak," ujarnya.

NUR ROCHMI | ANANG ZAKARIA | EFRI RITONGA