TEMPO/Tony Hartawan
Menteri Energi Tunggu Rekomendasi Dirjen Soal Harga Elpiji
TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Darwin Zahedy Saleh masih menunggu rekomendasi Direktorat Jenderal Minyak dan Gas berkaitan dengan opsi kenaikan harga gas elpiji nonsubsidi kemasan 12 kilogram dan 50 kilogram.
Pertamina mengusulkan kenaikan harga gas karena biaya produksi tak sebanding dengan harga jual di pasaran. "Saya belum bisa berkomentar karena masih belum dapat rekomendasi dari Ibu Dirjen Migas," kata Darwin di Kantor Presiden, Jumat, 24 Juni 2011.
Sebelumnya, Menteri Badan Usaha Milik Negara Mustafa Abubakar mendukung penyelamatan keuangan Pertamina. "Kami perlu membantu Pertamina karena tahun lalu mereka merugi hingga Rp 3 triliun," kata Mustafa di Kementerian BUMN Jakarta.
Salah satu penyebab kerugian karena Pertamina menjual gas di bawah harga wajar. Tahun lalu Pertamina merugi sekitar Rp 3,24 triliun dan pada kuartal pertama tahun ini sekitar Rp 1 triliun. Karena itu, manajemen mengusulkan kenaikan harga elpiji nonsubsidi.
Saat ini Pertamina menjual elpiji 3 kilogram bersubsidi seharga Rp 3.464 per kilogram. Sedangkan elpiji 12 dan 50 kilogram masing-masing dijual Rp 5.950 dan Rp 7.355 per kilogram. Padahal, Pertamina menghitung, harga wajar elpiji nonsubsidi Rp 8.500-9.000 per kilogram.
Darwin menegaskan, jikapun opsi menaikkan harga diambil, pemerintah tetap memberi subsidi kepada golongan masyarakat tak mampu. Ia mengungkapkan, pemerintah sedang membicarakan dan mempertimbangkan sejumlah opsi.
Dalam menjalankan tugasnya Pertamina memang tidak boleh merugi, sehingga opsinya kenaikan atau harus ada tambahan subsidi. "Kalau elpiji buat golongan yang tidak mampu jelas harus mendapat subsidi," kata Darwin.
EKO ARI WIBOWO





