Van Bronckhorst: Naturalisasi Bukan Jaminan Prestasi

Van Bronckhorst: Naturalisasi Bukan Jaminan Prestasi

Giovanni van Bronckhorst. TEMPO/Amston Probel

TEMPO.CO, Jakarta -Mantan bintang sepak bola dunia, Giovanni van Bronckhorst, hadir di Jakarta pada 21-25 Juni lalu. Gio--sapaan akrab kapten tim nasional Belanda di Piala Dunia 2010 itu--sibuk memenuhi undangan di berbagai acara televisi. Klimaksnya adalah saat ia bermain selama 45 menit dalam laga ekshibisi Starbol dengan pemain tim nasional dan pemain asing di Indonesia.

Darah Indonesia yang mengalir di tubuhnya berasal dari sang ibu, Fransien Sapulette dari Saparua, Maluku, Sedangkan ayahnya, Victor van Bronckhorst, blasteran Belanda-Indonesia. Lewat ibunya, Gio mengenal Indonesia. Bahkan ia mengaku telah mencicipi masakan Indonesia meskipun belum pernah datang ke Indonesia. "Gado-gado dan sate, saya suka," katanya.

Gio datang ke Indonesia dipromotori oleh ThreeSixty Entertainment untuk meresmikan Giovanni van Bronckhorst Foundation, lembaga kepedulian sosial terhadap anak-anak kurang mampu. Pemain yang membela tim nasional Belanda 106 kali dan mengantarkan Barcelona menjadi juara Liga Champions 2006 ini ingin membantu anak-anak kurang mampu di Indonesia lewat yayasannya.

Di sela kegiatannya, Gio bersama juru bicaranya, Rocky Tuhuteru, meladeni wawancara dengan Rina Widiastuti, Ezther Lastania, dan Aditya Noviansyah dari Tempo di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, tempat ia menginap, Kamis lalu. Perbincangan berlangsung di sebuah kafe di lantai satu hotel. Gio mengenakan kaus biru, celana pendek, dan sepatu putih. Mantan pemain Arsenal itu menjawab pertanyaan sambil menikmati secangkir teh sekitar 30 menit.

Bagaimana perasaan Anda datang pertama kali ke Jakarta?
Saya merasa bersemangat. Acaranya memang sibuk, tapi bertemu dengan fans di Indonesia memberi semangat besar bagi saya.

Apakah Anda ingin tinggal di Indonesia suatu hari nanti?
Tidak, karena saya lahir dan tinggal di Belanda. Tapi saya berencana mengajak istri (Marieke van Bronckhorst) dan anak (Jake dan Joshua van Bronckhorst) ke Maluku suatu saat nanti, menunggu anak-anak besar. Saat ini mereka masih kecil.

Di sela jadwal yang padat, adakah Anda melakukan hal lain, seperti berlibur?
Tidak ada. Yang saya lakukan hanya bertemu dengan berbagai media di Indonesia untuk memperkenalkan kepada masyarakat tentang Yayasan Giovanni van Bronckhorst.

Anda mengaku mengenal makanan Indonesia, gado-gado dan sate. Apakah sudah mencobanya?
Belum. Besok baru akan makan. Tapi, selama di sini, saya makan nasi.

Apakah cuaca Jakarta yang panas menjadi persoalan?
Saya tidak merasa terganggu oleh cuaca di sini. Tapi, pada saat pertandingan ekshibisi Starbol di Gelora Bung Karno, Senayan, Rabu lalu, terasa agak berat karena kondisi saya tidak seperti tahun lalu.

Dalam pertandingan itu kabarnya Anda ingin mencetak gol jarak jauh seperti yang Anda lakukan di semifinal Piala Dunia 2010, tapi tidak terjadi. Apa komentar Anda?
Sayang sekali. Saya tidak mempunyai satu pun kesempatan untuk menciptakan gol seperti itu. Tendangan bebas juga tidak ada. Tapi dua gol pada laga itu adalah umpan dari saya. Gol seperti di semifinal Piala Dunia itu hanya sekali selama 18 tahun bermain bola. Sedangkan pada laga ekshibisi kemarin, saya hanya memiliki waktu 45 menit. Jadi ini sangat tidak mungkin.

Apa penilaian Anda tentang pelatih asal Brasil, Jacksen F. Tiago, yang menangani tim Anda dalam pertandingan itu?
Tiago adalah pelatih yang baik dan bagus. Dia memberi keterangan tentang taktik, sistem bermain. Saya menyenangi dia.

Bagaimana dengan para pemain Indonesia yang menjadi lawan Anda di Starbol?
Pemain tim nasional Indonesia bermain cepat dan mempunyai taktik yang bagus, tapi terlalu terburu-buru sehingga sulit mencetak gol. Menurut saya, pemain Indonesia harus belajar taktik lebih dalam. Ini sangat penting. Di Eropa, ada istilah ambil posisi. Jadi pemain mesti tahu betul ke mana harus berlari, di mana harus berdiri, dan menunggu bola.

Level sepak bola Indonesia belum sama dengan Eropa. Untuk itu, penting bagi pemain muda mendapat pendidikan sepak bola. Seperti di Belanda ada Ajax Amsterdam, di Inggris ada Arsenal dan Chelsea. Pemain sepak bola harus belajar taktik sejak muda karena pemain sepak bola tak hanya bermain dengan bola, tapi dia juga mesti tahu ke mana harus berlari.

Boleh dikatakan penampilan Bambang Pamungkas cs tidak efektif....
Ya, terlalu terburu-buru. Yang terpenting dalam tim sepak bola adalah kerja sama. Dalam sepak bola internasional, aksi seorang pemain dalam kesebelasan akan berakibat pada pemain lainnya. Jadi seorang pemain harus tahu mau berbuat apa. Tim harus bekerja sama dan berpikir bersama. Mengenai hal ini, di Belanda sudah diajarkan sejak usia muda. Selain bermain bola, juga harus memperhatikan ruangan. Apabila sudah mengerti keadaan, barulah bisa ambil keputusan dengan bola.

Apabila mulai sekarang pemain muda dilatih teknik seperti kata Anda, butuh berapa lama Indonesia untuk bisa seperti Jepang atau Korea Selatan?
Butuh waktu lama, karena harus berinvestasi pada anak-anak usia muda. Itu seperti yang dilakukan di Belanda, Inggris, dan negara-negara di Eropa Barat.

Apakah anak-anak Indonesia harus dikirim ke Belanda untuk belajar sepak bola?
Yang sangat penting bukan hanya anak-anak Indonesia, tapi juga pelatihnya. Agar mereka bisa belajar taktik tim untuk mendidik anak-anak muda. Saya menyarankan hal itu dilakukan sesegera mungkin.

PSSI melakukan naturalisasi pemain keturunan Indonesia untuk memperbaiki prestasi sepak bola Indonesia. Menurut Anda, apakah itu solusi tepat?
Itu hanya solusi jangka pendek, bukan dasar yang kuat untuk membangun sepak bola di Indonesia.

Tentang Yayasan Giovanni van Bronckhorst, bagaimana perkembangannya?
Cukup bagus. Itu penting untuk saya, untuk kita. Saya saat ini ada di sini untuk melihat negara yang berpenduduk besar. Di Belanda, ada perusahaan mencari di Indonesia sehingga kita bisa memulai proyek ini. Yayasan ini tidak bergerak di bidang sepak bola. Tidak untuk menguatkan keterampilan pemain muda Indonesia buat menjadi pemain yang sukses. Dasar yayasan ini memberi kesempatan bagi pemuda yang kekurangan untuk dapat mengembangkan diri mereka. Jadi bukan spesifik di bidang sepak bola.

Apakah Anda sudah bertemu dengan pemerintah Indonesia untuk membicarakan yayasan Gio?
Belum. Kami telah membuat jadwal bertemu, tapi sampai sekarang belum ada pertemuan dengan pemerintah Indonesia. Kami punya jadwal bertemu dengan Kedutaan Belanda di Indonesia

Jadi sejauh ini bagaimana respons terhadap misi Gio?
Kami mendapat respons sangat baik dari negara yang belum pernah saya datangi sebelumnya. Seperti sebuah orientasi, untuk bisa mengetahui situasi di sini. Di Belanda, kami bekerja sama dengan pemerintah dan organisasi-organisasi serta perusahaan dalam mengerjakan proyek ini. Dan kami ingin mengembangkan hal yang sama di Indonesia. Kita bisa memulainya dengan program yang cocok di sini nantinya.

Pemain Spanyol, Francesc Fabregas, pada Rabu lalu juga mengunjungi Jakarta. Apakah Anda sempat bertemu?
Saya bertemu tadi malam (Rabu lalu). Kami minum kopi bersama dan berbincang sebentar. Kini dia ada di Bali.

Apakah Anda ingin tinggal di sini lebih lama atau menyusul para pemain Liga Inggris yang sedang berlibur di Bali?
Saya tahu sekarang banyak pemain bola yang sedang berlibur di Bali, tapi mungkin lain kali. Tidak sekarang. Saya sudah rindu keluarga saya dan sangat ingin bertemu dengan mereka. Mungkin lain kali saya akan membawa keluarga saya ke sini. Maluku nanti akan menjadi tujuan utama saya.

Anda punya saudara yang Anda kenal di sini?
Lilipaly adalah marga nenek saya. Saya punya banyak saudara di Jakarta, tapi tidak semuanya saya kenal. Mungkin, jika mereka sudah berkunjung ke Belanda, saya akan kenal.

Dari rangkaian acara selama di Jakarta, apa yang menurut Anda paling terkesan?
Saat hadir di acara televisi Bukan Empat Mata. Saya menikmatinya. Acara itu lucu, di Belanda tidak ada acara begitu. Presenternya suka bergoyang (sambil menirukan gaya Tukul), dia lucu.

Biodata:
Nama: Giovanni van Bronckhorst
Tempat dan tanggal lahir: Rotterdam, Belanda, 5 Februari 1975
Tinggi: 1,78 meter
Posisi bermain: bek kiri/gelandang bertahan

Karier di klub senior:
Tahun*Tim*Tampil (Gol) ---NB: AKU PAKAI* TAKUT KALAU DITAB JADI RUUWET SAM
1993/1994*RKC Waalwijk*12 (2)
1994-1998*Feyenoord*103 (22)
1998-2001*Rangers*73 (13)
2001-2003*Arsenal*42 (2)
2003-2007*Barcelona*105 (5)
2007-2010*Feyenoord*88 (8)
Total*423 (52)
Tim nasional
1996-2010*Belanda 10 (6)

Keterangan: penampilan di klub senior dan gol hanya di liga domestik.

Prestasi
Rangers:
Juara Liga Primer Skotlandia 1998/1999, 1999/2000
Juara Piala Skotlandia 1999, 2000
Juara Piala Liga 1998

Arsenal:
Juara Liga Primer Inggris 2001/2002
Juara Piala FA 2002, 2003

Barcelona:
Juara La Liga 2004/2005, 2005/2006
Juara Supercopa de España 2005, 2006
Juara Liga Champions UEFA 2006

Feyenoord:
Piala KNVB 1994/1995, 2007/2008

Tim nasional:
Runner-up Piala Dunia 2010
Semifinal Euro 2000, 2004

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
; $foto_slide_judul =

Musik/Film

; $foto_slide_judul =

Musik/Film

Wajib Baca!
X