AP/Scanpix Sweden, Fredrik Sandberg
Topik
Coba Dulu, Baru Sekolah
TEMPO.CO, Jakarta:Suara di dalam ruangan itu amat bising. Musik dan teriakan guru yang mengajar di sebuah kelompok bermain berukuran tak terlampau lapang itu saling beradu. Pantulan suara ini membuat badan Nayaka Magani Bibisana bergetar. Ia lalu menutup kedua kupingnya saking tak tahan. Bocah 2 tahunan itu ngambek dan berlari ke luar ruangan. "Aku enggak mau ke dalam lagi, berisik banget," katanya.
Pengalaman dua tahun lalu itu membekaskan trauma bagi Nayaka. Sejatinya saat itu, Arie Mega, ibu balita laki-laki itu, bermaksud menjajal minat Nayaka bersekolah di kelompok bermain itu melalui trial class atau kelas percobaan. Ia ingin mengetahui apakah sekolah itu cocok untuk anaknya, yang disebutnya berkarakter seperti Toto Chan, gadis cilik dalam novel Jepang. "Semaunya sendiri," katanya mendeskripsikan perilaku anak satu-satunya itu.
Walhasil, Nayaka akhirnya mengikuti kelas percobaan di sekolah lain. Syukurlah, ia mendapatkan sekolah yang pas di hatinya. Tapi tahun lalu, ia mau berkompromi dengan ayah bundanya dengan bersekolah di taman kanak-kanak yang dulu ia tolak. Arie memindahkan Nayaka agar bisa lebih berdisiplin dan mau "mendengar".
Pengalaman serupa dialami Banyu Neruda saat mengikuti kelas percobaan tingkat taman kanak-kanak di sekolah alam pada tiga tahun lalu. Ia menyukai cara guru itu mengajar, yang lebih banyak berada di luar kelas. Beberapa kali ia ikut tertawa melihat para calon kakak kelas dan gurunya menari dan bernyanyi di halaman sekolah yang amat lapang. Namun ia tak mau bergeser dari tubuh ibunya, Hamamah Marati (bukan nama sebenarnya), lantaran merasa asing.
Trial class kini umum ditawarkan di sekolah-sekolah swasta baru. Menurut psikolog pendidikan, Ratih Ibrahim, sekolah yang menawarkan kelas percobaan menunjukkan mereka amat memahami persaingan bisnis dengan sekolah-sekolah lain. Selain itu, kelas percobaan bermaksud mengantarkan produknya melalui "sampel" agar kondisi dan lingkungan sekolah itu diketahui dan dicoba orang tua-calon murid. "Kalau dulu caranya melalui open house, orang tua datang dan lihat, sekarang mereka bersama anaknya bisa nyobain sendiri," kata Ratih.
Keterlibatan orang tua dan anak dalam kelas percobaan ini bertujuan agar mereka bisa merasakan langsung suasana di sekolah. Keuntungannya, kata Ratih, orang tua mendapatkan pemahaman dan pengalaman bagaimana kultur dan ambiance di sekolah. Ratih menilai kelas percobaan banyak manfaatnya. "Justru di situ kita tahu anak cocok enggak sekolah. Apakah ada chemistry-nya dengan si anak," ujarnya.
Psikolog lainnya, Rose Mini Adi Prianto, juga mengatakan bahwa kelas percobaan tak berdampak buruk bagi anak. "Trial class itu dianggap proses adaptasi untuk melihat kompetensi guru dalam mengajar dan orang tua melihat apakah sekolah itu cocok untuk anaknya," kata doktor psikologi dan pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia itu menjelaskan.
Rose, yang akrab disapa Bunda Romi, mengatakan kelas percobaan tidak akan menimbulkan trauma. Jika anak mengalami trauma seperti yang dialami Nayaka, biasanya tak berlangsung lama. "Itu akan hilang dengan dia mencoba di sekolah lain." Ia menjelaskan, kasus yang dihadapi Nayaka bisa jadi karena anak tidak dilatih beradaptasi.
"Sebelumnya, dunianya hanya ia dan keluarga inti saja," ujar Bunda Romi. Karena itu, ia menyarankan, sebelum melakukan trial class, orang tua harus bisa mengondisikan si anak agar mudah beradaptasi. "Orang tua mulai membiasakan anak mengolah diri dengan mengenalkan ada sosok otoriter lain di luar ayah ibunya," katanya. Jika praktek ini diterapkan, si anak tak akan susah beradaptasi sekalipun baru pertama bertemu.
Kendati tidak berdampak buruk bagi anak, Bunda Romi mengingatkan agar program itu tidak menempatkan si anak menjadi kelinci percobaan. "Trial class itu anak diperkenalkan pada lingkungannya, ada guru, murid, dan teman agar dia mengerti," katanya.
ISTIQOMATUL HAYATI






