Jejak Budaya Tionghoa  

TEMPO.CO, Bandung -Tiga dari sebelas gambar pada deretan seri karya foto berjudul Elevation of Negotiation 1 itu terlihat buram. Samar-samar tampak seperti bangunan yang tak asing di Bandung. Ketiganya adalah masjid dan wihara. Tapi, ketika diburamkan, kesan rumah ibadah seperti lenyap. "Yang menonjol justru arsitektur Cinanya," kata Heru Hikayat, kurator pameran fotografi karya Henrycus Napitsurgo alias Icuz.

Pameran bertajuk Homeland, Beliefs, Personal God(s) itu mengangkat tradisi budaya, agama, dan kepercayaan masyarakat Cina yang masih dipertahankan di kota urban. Henry berkeliling Bandung untuk menangkap perpaduan tradisi Cina dengan lingkungan kota juga agama. Pameran ini berlangsung 19 Juni hingga 3 Juli 2011 di galeri Platform 3, Jalan Cigadung Raya Barat nomor 2, Bandung.

Dari tempat umum, kameranya menangkap plang bertulisan Vihara dan Pos Linmas di bawahnya yang dipasang bersama. Lensanya juga mengarah ke sebuah spion mobil yang digantungi tali berbandul seperti jimat dengan aksara Cina, serta kalung salib. Wajah Masjid Lautsze 2 di Jalan Tamblong, Bandung, yang kental dengan ornamen Cina dan aktivitas salat Jumat di sana hingga luber ke trotoar, pun ikut melengkapi gagasannya.

Adapun di ruang privat, Icuz mengajak masuk ke tempat pertemuan dunia spiritual dengan kehidupan sehari-hari. Patung kecil Buddha di atas rak yang berdiri di samping tumpukan barang dan kotak kardus, misalnya. Atau patung dewa di antara tumpukan lakban. Sebuah karya yang dibuat khusus dengan ukuran memanjang, menampilkan altar di sebuah gereja berlatar rak laci berisi abu leluhur.

Menurut arsitek lulusan Institut Teknologi Nasional, Bandung, itu proyek fotonya kali ini berfokus pada permasalahan identitas kaum Tionghoa-Indonesia. Permasalahan ini tecermin dari simbol-simbol ataupun kebiasaan yang mencoba beradaptasi dan memaklumi antara ajaran agama dan budaya Tionghoa itu sendiri, hingga kemudian menjadi sebuah bentukan baru yang unik.

"Saya fokuskan pada bagaimana masyarakat etnis Cina bertahan di tengah kebijakan penguasa beberapa dekade yang cenderung mempersempit ruang gerak keyakinan dan budayanya," kata fotografer berusia 37 tahun itu. Ia menjadikan bentuk perlawanan identitas budaya Cina dalam bentuk sederhana sebagai poin penting.

ANWAR SISWADI