foto

TEMPO/Amston Probel

Orang Utan Bahagia Hidup Lebih Lama  

TEMPO.CO, Edinburgh - Penelitian terhadap orang utan menunjukkan bahwa individu yang hidup bahagia akan memiliki usia lebih panjang. Temuan ini bisa menjadi titik terang bagi evolusi kebahagiaan pada manusia.

Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa manusia berumur lebih panjang jika hidup bahagia. Ilmuwan tergelitik mengetahui rahasia di balik fakta ini dengan menelaah perilaku salah satu saudara terdekat manusia, orang utan.

Adalah Alexander Weiss, ahli primata dari University of Edinburgh, Skotlandia, yang meminta penjaga kandang kebun binatang mencatat tingkat kegembiraan orang utan sejak tahun lalu.

Selama kurun itu, peneliti mengumpulkan data dari 172 orang utan yang terdiri atas 89 orang utan Sumatera (Pongo abelii), 53 orang utan Kalimantan (Pongo pygmaeus), dan 30 orang utan campuran.

Selama penelitian, penjaga kandang harus memperhatikan suasana hati orang utan dan seberapa nikmat mereka menikmati interaksi dalam komunitasnya. Penjaga kandang juga diminta berandai-andai seberapa bahagia jika mereka berada di posisi orang utan tersebut.

"Dengan pencatatan seperti ini, kami bisa menilai perasaan setiap orang utan," ujar Weiss.

Hasil penelitian menunjukkan, orang utan yang hidup bahagia memiliki masa hidup lebih panjang hingga 7 tahun. Efek ini terjadi pada setiap individu tanpa memandang jenis kelamin, umur, spesies, atau seberapa sering mereka dipindahkan dari kandang.

Kebahagiaan orang utan, kata Weiss, berhubungan dengan tingkat kesehatan tubuh. Karena itu, kebahagiaan bisa menjadi alat berharga dalam menentukan masa depan kesehatan dan keberlangsungan hidup orang utan.

"Ketidakbahagiaan merupakan pertanda adanya masalah kesehatan yang tak terdeteksi oleh alat medis yang ada," ujar dia.

Temuan ini juga memberikan petunjuk pada nenek moyang orang utan dan manusia. Kebahagiaan juga berperan dalam menentukan masa hidup manusia yang hidup 14 juta tahun silam.

"Hubungan kebahagiaan dengan umur ini terjadi pada lintas spesies, menunjukkan peran pentingnya dalam evolusi nenek moyang manusia."

Makalah Weiss sendiri terbit pada jurnal Biology Letters edisi 29 Juni 2011.

LIVESCIENCE | ANTON WILLIAM