foto

TEMPO/Hariandi Hafid

Raksasa Semen Prancis Bangun Pabrik di Langkat

TEMPO.CO, Jakarta - Produsen semen terbesar Prancis, Lafarge Cement, memastikan membangun pabrik di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Pembangunan pabrik baru itu menelan investasi Rp 5 triliun dengan kapasitas produksi nantinya diharapkan 1,5 juta ton per tahun.

Hal tersebut dikemukakan Menteri Perindustrian Mohamad Suleman Hidayat setelah bertemu dengan Chief Executive Officer Lafarge Cement, Bruno Lafont, seiring dengan kunjungan Perdana Menteri Prancis Francois Fillon, pada Jumat lalu.

Menurut Hidayat, Lafarge sudah melakukan studi untuk melengkapi analisis mengenai dampak lingkungan.

Pemerintah berjanji akan mengawal investasi dengan mempercepat proses perizinan. Kementerian mengharapkan pabrik baru itu sudah dapat dibangun pada awal tahun depan. "Jika semua berkas yang dibutuhkan lengkap, dalam satu bulan izin bisa keluar," kata Hidayat.

Sejatinya Lafarge memiliki pabrik di Aceh berkapasitas 1,6 juta ton per tahun. Pabrik itu hancur saat tsunami melanda Aceh. Untuk merenovasi pabrik, Lafarge mengeluarkan US$ 300 juta. "Perbaikannya sudah selesai dan mulai percobaan operasi," kata Direktur Jenderal Basis Industri Manufaktur Panggah Susanto.

Salah satu pertimbangan Lafarge membangun pabrik semen di Langkat adalah besarnya pasokan bahan baku di daerah tersebut. Konon pasokan bahan baku semen di Langkat cukup untuk 30 tahun produksi. "Langkat kaya bahan baku semen, sehingga tidak perlu jauh mengambil di tempat lain," ujar Panggah.

Rencananya, setelah selesai membangun pabrik di Langkat, Lafarge juga berminat membangun pabrik semen di Jawa. "Mereka bilang sudah berbicara dengan PT Semen Gresik mengenai rencana tersebut," kata Hidayat. Namun lokasi dan kapasitas pabrik yang akan dibangun masih dalam pembahasan.

Investasi Lafarge menggenapi deretan pabrik semen baru di Tanah Air. Sebelumnya, perusahaan semen Cina, Anhui Conch Cement Company Ltd atau Conch Group, akan membangun empat pabrik di Kalimantan dan Papua. Total investasi yang digelontorkan mencapai US$ 2,35 miliar atau Rp 20,17 triliun.

Setiap tahun kebutuhan semen dalam negeri naik 7-10 persen atau 4 juta ton. Maka kebutuhan pada 2015 diperkirakan lebih dari 55 juta ton. Jika ingin memenuhi seluruh kebutuhan, setidaknya pemerintah perlu membangun dua pabrik berkapasitas 2 juta ton saban tahun.

  AGUNG SEDAYU | BOBBY CHANDRA