TEMPO/Dasril Roszandi
Topik
Menjelang Puasa, Harga Bahan Pokok Merangkak Naik
TEMPO.CO, Jakarta - Sebulan menjelang bulan puasa, stok bahan kebutuhan pokok di pasar tradisional di Jakarta mulai menipis. Akibatnya, harga komoditas dasar pun mulai merangkak naik.
Misalnya stok daging sapi di Pasar Rawabadak, Rawabadak Utara, Koja, Jakarta Utara. Dari harga Rp 60 ribu per kilogram menjadi Rp 68 ribu. "Sudah dua hari ini, katanya sih karena belum ada sapi lagi masuk dari Jakarta," kata Lili, 30 tahun, salah satu pedagang daging sapi, kemarin.
Menurut Lili, minimnya stok menyebabkan para pedagang harus rebutan. "Saya juga berkurang jualannya, dari biasanya 10 ekor per hari menjadi 7-8 ekor," katanya. Lili, yang memasok daging sapi dari Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Tangerang, menambahkan, harga daging sapi lokal saat ini lebih mahal dibanding daging sapi impor.
Adapun satu kilogram telur, yang sebelumnya dibanderol Rp 14.500-15.000, saat ini harganya sudah menjadi Rp 17 ribu di tingkat agen. Bahkan, di tingkat pengecer, harganya sudah Rp 18 ribu. "Naiknya lebih parah dari masa sebelum puasa tahun lalu. Modalnya dari Blitar saja sudah di atas Rp 16.000," kata Abas, 35 tahun, salah satu agen telur di Pasar Rawabadak.
Menurut Abas, kenaikan harga telur diduga karena banyaknya kebutuhan di daerah, sehingga pasokan ke Jakarta berkurang. "Kalau bulan-bulan sebelum puasa, di daerah biasanya banyak hajatan," katanya. Nanti, kata Abas, memasuki awal puasa, harga telur biasanya turun Rp 500-1.000 per kilogram. Menjelang Lebaran, biasanya harga kembali naik. "Tetapi harganya bertahan tinggi dengan harga sudah Rp 18 ribu saat ini," kata Abas.
Sementara itu, meningkatnya kebutuhan masyarakat menjelang tahun ajaran baru membuat Pegadaian diserbu nasabah. "Beberapa minggu ini ramai. Kalau dari omzet mingguan, gadainya mulai naik sekitar 20 persen," kata Dody Haryono, Manajer Operasional Pegadaian Cabang Kelas I Tanjung Priok, dalam kesempatan terpisah.
Omzet gadai bulan Juli, kata Dody, ditargetkan meningkat sekitar 30 persen dari bulan Juni. Selama Juni, omzet gadai mencapai Rp 8,8 miliar, sedangkan omzet tebusan mencapai Rp 8,3 miliar. Sebaliknya, pada Mei lalu, omzet gadai mencapai Rp 8,4 miliar, sedangkan omzet tebusan mencapai Rp 8,8 miliar. "Sekitar 95 persen emas perhiasan. Sisanya televisi, laptop, dan sepeda motor," ujarnya.
ARYANI KRISTANTI





