Warna-warni Tunik Kaftan Tenun Nusantara

Warna-warni Tunik Kaftan Tenun Nusantara

TEMPO/Dasril Roszandi

TEMPO.CO, Sebutannya busana muslim. Tapi, ternyata tak berarti hanya wanita muslimah yang layak menggunakan busana yang umumnya tidak banyak memperlihatkan bentuk tubuh ini. Inilah yang jadi tema besar karya para perancang kelas satu di Indonesia dalam "Indonesia Fashion and Craft 2011: "Busana Muslim Indonesia untuk Dunia".

Pada acara tersebut, mulai dari Carmanita, Stephanus Hamy, Tuty Cholid, Yongki Budisutisna, Susie Hedidjanto, Musa, Jeny Tjahyawati, Anne Avantie, hingga Irna Mutiara menampilkan 2 karya busana berupa tunik dan kaftan siap pakai.

Sebanyak 24 model tampil memperagakan busana-busana rancangan para anggota Ikatan Perancang Mode Indonesia dan Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia itu. Namun, meski tema besarnya mengarah pada busana muslim, beberapa perancang tak selalu taat asas lewat kreasi busana yang kurang pas dengan benang merah tema.

Peragaan dibuka dengan peragaan busana besutan Carmanita. Tampilan busana padu padan tenun dan batik dilengkapi aksesori untaian kreasi kalung kain dan ikat kepala yang menutupi seluruh bagian kepala. Dia juga mengkreasikan busana siap pakai tenun dengan 2 motif yang berbeda dengan legging. Carmanita menampilkan 3 baju yang seirama dengan tema dari 6 rancangan.

Menyusul rancangan Carmanita, Stephanus Hamy tetap menampilkan ciri khas rancangannya, kain krep dengan lipit-lipit atau plisket memanjang di semua bagian tubuh. Tampil dengan gaya lipit dan taburan payet di sekitar dada dan bahu serta beberapa warna pilihan, yakni paduan busana atas biru dongker dipadu kerudung dan celana pensil hijau pucuk daun. Terlihat segar. Selain biru dipadu hijau, Stephanus memberi 2 pilihan warna, yakni abu-abu dan hitam.

Tiga busana lain yang dipamerkan adalah setelan baju lipit hitam, krem, dan biru, dipadu blazer panjang dari tenun Sumbawa. Kerudung warna senada baju dilengkapi aksesori kalung-kalung besar dan panjang. "Lipit tetap saya pakai agar orang tetap ingat ciri khas rancangan saya. Taburan payet di dada untuk mempermanis saja," ujar Stephanus saat ditemui seusai peragaan busana di Jakarta Convention Center pada Rabu pekan lalu.

Setelan lipit dan tenun tersebut, kata Stephanus, bisa dipadu padan dengan rok lipit yang fleksibel untuk berjalan karena bisa melebar atau kain panjang. "Saya ingin pemakai juga merasa bebas berjalan, apalagi para perempuan yang aktif," ujarnya.

Sedangkan Tuty Cholid, dengan tema "Harmony Ethnic in Nature", menyajikan padu padan busana muslim siap pakai. Tuty memadukan tenun dan batik Solo. Enam setelan busana ditampilkan dengan dasar warna hitam, pink, dan bunga-bunga.

Sebuah setelan celana dengan blazer longgar serta padu padan setelan atas model silang piyama. Rancangan lainnya adalah kaftan motif bunga dengan setelan celana kulot hitam. Dipadu dengan kerudung dan aksesori selendang untuk mempermanis penampilan.

"Model mix-match color, tenun dan sutra ATBM. Saya ingin mengeksplorasi motif kain dan tenun berbagai daerah," ujar Tuty seusai peragaan. Dengan potongan yang sederhana dan siap pakai, kata Tuty, ia lebih menonjolkan daya jual. "Apalagi model di pameran begini."

Selain Tuty, perancang Jeny Tjahyawati mengeksplorasi tenun Nusa Tenggara Timur. Karyanya bertema "On the Road Savana Motif NTT". Perempuan ini merancang busana dengan warna-warna natural. Dia mengeksplorasi drapery dipadu bolero atau paduan celana harem. Meski begitu, dia juga tetap bermain dengan potongan, meski tak terlalu dominan. "Sebenarnya hanya kain satu lembar, tapi dipadu-padu," ujarnya.

Bahan sutra, rayon, dan spandek menjadi bahan untuk mewujudkan kreasinya. Warna dusty pink menjadi pilihannya dan dibentuk dalam setelan busananya.
Jeny memberi kesan berat dengan aplikasi bunga-bunga kain senada yang dibentuk sebagai kalung. Tak hanya di busana, bunga-bunga juga menjadi hiasan di sandal wedges. "Dibuat dari sisa kain supaya lebih ramah lingkungan," ujar Jenny.

Sedangkan Yongki Budisutisna memamerkan rancangan tunik dan kaftan yang sederhana. Dengan bahan sifon, Yongki memilih warna-warna pastel, seperti pink, biru, abu-abu, dan krem. Potongan kotak dengan aksen bunga mawar di bagian leher terlihat ringan dan sederhana. Untuk bagian bawah, Yongki memadukannya dengan legging, celana, dan kain batik. "Saya ingin pemakai ini bisa berkreasi sendiri dengan padu padan rok, legging, atau palazo," ujar Yongki.

Dia mengatakan, dalam beberapa waktu ini keinginannya adalah membuat busana dengan gaya polos. "Mood saya buat busana flawless tak bernoda," ujarnya.

Kesan sederhana juga terlihat pada rangkaian busana rancangan Susie Hedidjanto. Tak banyak detail, padu padan, atau aksesori. Tiga model menampilkan rancangan gamis corak yang meriah. Dia memilih warna-warna cerah hijau, putih bermotif bunga-bunga, dan krem bermotif bunga pink. Sederhana dengan dipadu kerudung senada. Busana lainnya dengan padu padan kain batik dan model kebaya panjang putih ditambah aksesori roncean manik-manik kristal dan selendang.

Rancangan Susie yang cerah dan sederhana sangat berbeda dengan rancangan yang ditampilkan Irna Mutiara. Perancang ini mengajak penonton melihat rancangan gamis untuk acara pesta. Ada 6 gamis pesta detail rompi siluet garis, ada pula setelan rompi siluet garis dengan potongan celana harem. Busana pesta lainnya dengan tambahan detail payet di bagian dada dan bawah. Irna juga memberi sentuhan lilitan selendang panjang di salah satu gamis kremnya.

Anne Avantie menampilkan 6 busana dengan batik lawasan, dengan model tumpuk dan backless dipadu celana atau model rok panjang satu bahu dipadu dengan ikat kepala. Dia memainkan detail dengan membuat mawar di rok tersebut. Busana lainnya dengan model kemben rok panjang. Sama dengan Anne, Musa tak menampilkan koleksi busana muslim, tapi model formal dengan shell luriknya. Padu padan rok selutut dengan model blazer, baju lengan pendek, atau rok tanpa lengan lengkap dengan topi-topinya.

DIAN YULIASTUTI


Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X