TEMPO/Aditia Noviansyah
Konsumsi BBM PLN Naik Pesat
TEMPO.CO, Jakarta - Konsumsi Bahan Bakar Minyak untuk Pembangkit PLN tahun ini bakal melonjak. Sesuai perhitungan, kata Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Jarman, konsumsi akan bertambah sebanyak 64,5 persen dari asumsi yang ditetapkan pada tahun ini.
"Asumsinya, konsumsi BBM untuk pembangkit listrik tahun ini hanya sebanyak 4,438 juta" kata Jarman di Jakarta, Kamis 7 Juli 2011.
Jarman memperkirakan, akan terdapat kenaikan sebesar 2,864 juta kiloliter hingga menjadi 7,302 juta kiloliter. Menurut dia, kenaikan konsumsi tersebut dikarenakan pasokan gas yang berkurang kepada PLN.
"Selain itu, peningkatan pemakaian BBM juga disebabkan mundurnya operasi sejumlah pembangkit batu bara, sehingga memperpanjang sewa pembangkit diesel," ujarnya.
Keterlambatan operasi beberapa PLTU menyebabkan kebutuhan energi listrik sebesar 2,47 juta Mwh harus diproduksi oleh pembangkit berbahan bakar minyak."Dan itu memberikan kontribusi penambahan biaya sebesar Rp 5,02 triliun," tambah dia.
Secara rinci, pemakaian BBM sebanyak 7,3 juta kiloliter tersebut terdiri dari minyak solar (HSD) 4,708 juta kiloliter, minyak bakar (MFO) 2,588 juta kiloliter, dan minyak diesel internasional (IDO) 6.612 kiloliter.Dengan konsumsi sebanyak itu, diperkirakan membutuhkan dana sebesar Rp 48,029 triliun.
Naiknya pemakaian BBM ini juga menyebabkan porsi BBM di bauran energi primer PLN meningkat, dari semula 11 persen menjadi 18,89 persen. Naiknya porsi BBM ini, berimbas pada penurunan asumsi pemakaian batubara yang semula diperkirakan sebesar 49,2 persen dari bauran energi hanya menjadi 45,97 persen.
Begitu pula dengan pemakaian gas yang semula diprediksi sebanyak 29,77 persen menjadi hanya 25,91 persen. Penurunan asumsi pemakaian tersebut menurun, tak lain tak bukan dikarenakan pasokan gas yang kurang, dan belum dapat beroperasinya beberapa PLTU sesuai rencana.
Jarman juga mengajukan pengajuan perubahan subsidi listrik untuk APBN-P 2011. Dari semula sebesar Rp 40,7 triliun menjadi Rp 66,33 triliun. atau naik sebesar Rp 25,63 triliun.
GUSTIDHA BUDIARTIE





