foto

TEMPO/Eko Siswono Toyudho

Penawaran Saham Viva Jalan Terus

TEMPO.CO, Jakarta - Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) menyatakan PT Visi Media Asia (VIVA) tidak perlu mengulangi proses penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) dari awal. "Mereka tidak perlu memasukkan surat pernyataan pendaftaran lagi," kata Kepala Biro Penilaian Keuangan dan Jasa Bapepam-LK Gontor Ryantori Azis di Jakarta, Jumat, 8 Juli 2011.

Menurut Gontor, VIVA dapat melanjutkan proses IPO dengan menggunakan laporan keuangan per 30 Mei 2011. Sebelumnya, perusahaan milik Grup Bakrie ini memberikan laporan keuangan per Desember 2010. Akibatnya, surat pernyataan efektif tidak didapatkan, karena Bapepam-LK masih memerlukan informasi terkait dengan praktek book building (penawaran awal) yang dilakukan secara online oleh perusahaan.

Selain itu, dalam book building online yang dilakukan dinilai terdapat beberapa unsur penawaran dan koordinasi pemesanan efek. Untuk sementara, hal tersebut belum diperbolehkan selama book building masih berlangsung. "Book building online memang bentuk kreativitas VIVA, tapi memang belum ada regulasinya. Harus ada garis yang tegas antara book building dan pemesanan," kata Gontor.

Menurut Gontor, dengan laporan keuangan per 30 mei 2011, akan ada beberapa perubahan data dan informasi yang semuanya harus dilaporkan ke Bapepam-LK. Setelah perusahaan memasukkan data atau informasi terbaru, baru kemudian Bapepam-LK akan mengkaji kembali apakah perusahaan layak mendapatkan surat pernyataan efektif dari Bapepam-LK.

Namun, jika tetap ingin mengulangi kembali proses book building, diserahkan kepada kebijakan VIVA. "Book building itu kan untuk menjajaki minat dan pembentukan harga. Kalau mereka sudah yakin, ya tidak perlu lagi," Gontor melanjutkan.

VIVA berencana menawarkan 2,286 miliar lembar saham baru tahun ini. Berdasarkan hasil book building yang dilakukan perusahaan, harga saham yang ditetapkan Rp 280 per saham. Menurut Executive Director PT Danatama Makmur Vicky Ganda Saputra, dengan penetapan pada harga tersebut, target perolehan dana IPO VIVA bisa mencapai Rp 640,1 miliar.

Proses pembentukan harga sendiri sudah dilakukan pada penawaran awal IPO VIVA yang berlangsung pada 13-21 Juni 2011. Minat calon investor dinilai Vicky positif. Itu terlihat dari kelebihan permintaan (oversubscribed) atas sahamnya yang mencapai 5,12 kali.

Awalnya, IPO tersebut rencananya sudah direalisasi pada Juli 2011. Namun, karena Bapepam-LK menunda pemberian surat pernyataan efektif, target tersebut mundur. Vicky menargetkan pada September ini VIVA sudah terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

EVANA DEWI