Mustafa Abubakar. ANTARA/Yudhi Mahatma
Topik
Menteri BUMN: ''Timing'' Kenaikan Elpiji Belum Tepat
TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Mustafa Abubakar, mengatakan rencana kenaikan harga jual elpiji tabung ukuran 50 kilogram dan 12 kilogram dinilai belum tepat waktunya. "Memang itu kesepakatan saat rapat bersama Menko Perekonomian. Jadi, tidak usah dulu dinaikkan karena timing-nya tidak tepat," katanya, Kamis malam, 7 Juli 2011.
PT Pertamina (Persero) batal menaikkan harga jual elpiji industri. Padahal, tadinya dengan alasan sering merugi karena menjual elpiji di harga berkisar Rp 7.355 per kilogram, Pertamina mengajukan rencana kenaikan harga. Adanya selisih harga jual tersebut dengan harga pasar yang terus ditanggung membuat laba Pertamina tergerus sampai dengan Rp. 3,2 triliun di tahun lalu.
Menurut Mustafa, saat ini pembahasan masih dilakukan bersama kementerian terkait, apakah pemerintah akan melakukan penambahan subsidi bagi Pertamina sebagai solusi ditundanya rencana kenaikan harga. "Solusi lain sempat diusulkan Pertamina, yaitu dengan menambah subsidi untuk menutup kerugian. Nanti akan kami lihat daya dukung keuangan negara. Apakah bisa seperti yang diharapkan," kata Mustafa.
Jika opsi penambahan subsidi tersebut disepakati, maka dapat diusulkan dalam APBN-P 2011 atau APBN 2012. Menurutnya, pemerintah juga akan menghitung apakah penghematan yang didapat dari konversi gas ukuran 3 kilogram bisa dipakai untuk menutup sebagian kekurangan dari biaya produksi Pertamina.
Pada saat ini, kebutuhan Pertamina sangat besar, tapi dananya terbatas. Defisit sudah lebih dari 2 persen anggaran. “Ini yang sedang coba diatasi, tapi sekarang belum waktunya dilakukan kenaikan harga," ucap Mustafa.
EVANA DEWI





