foto

Melukis Bali yang Berubah

Melukis Bali yang Berubah  

TEMPO.CO, Ubud - Perempuan dan laki-laki itu ambruk hampir bersamaan. Dalam keadaan setengah sadar, tangan mereka menggapai-gapai, seolah menyambut kehadiran para Dewa. Mereka baru tersadar setelah terkena percikan tirta dan puja mantra.

Adegan dengan pesona mistis itu diabadikan Rio Helmi dalam fotonya. Setelah puluhan tahun, dia merasa spirit foto itu masih bertahan dan menepis rasa bosan untuk menikmatinya. Ia lalu ingin memunculkannya dengan mengolah ulang foto menjadi sebuah lukisan. Caranya dengan menyapukan warna-warna pada foto itu untuk menghasilkan efek tertentu. “Hasilnya adalah realitas baru yang tak kuduga sebelumnya,” kata fotografer senior ini.

Bersama puluhan karya serupa, kini foto setengah lukisan itu dipajang di Galeri Komaneka, Ubud, Bali, hingga Agustus mendatang. Dalam pameran bertajuk Transitory itu, foto-foto hitam-putih dicetak di atas kanvas. Semuanya menunjukkan aneka upacara di Bali. Kesan mistis dan sakral mewarnai hampir semua obyek, bahkan ketika Rio menampilkan close-up wajah-wajah mereka.

Lihat saja foto berjudul Macan, yang menampilkan seorang penari dalam Gerebeg Aksara. Ia mengenakan tudung yang hampir menutupi seluruh tubuhnya. Wajahnya muncul di balik topeng barong macan dengan warna-warna yang dipertegas warna merah dan kuning emas. Latar belakang obyek itu ia biarkan tetap hitam-putih, sehingga kekontrasan warna-warnanya sangat menonjol.

Suasana mistis itu tampak semakin kuat bahkan pada foto-foto yang sejatinya hanyalah peristiwa biasa. Foto anak-anak yang sedang menari Garuda Layang dan ditonton teman-temannya, misalnya. Tambahan kabut yang menyelimuti si penari membuatnya seolah melayang di udara.

Rio menjelaskan, ketika menyapukan kuasnya di atas foto, dia sengaja membebaskan dirinya dari hasrat menciptakan efek tertentu. Kalaupun tebersit sebuah keinginan, bisa saja kemudian berubah dalam penggarapan. Hal itu hampir sama dengan proses kreatifnya saat memotret, di mana perubahan obyek akan menuntunnya menemukan adegan terbaik yang bisa diambil. “Saat melukis foto, sayalah yang menjadi penentu sepenuhnya,” kata pria kelahiran Swiss, 1954, ini.

Proses itu bukanlah tanpa risiko. Apalagi dia mengaku bukanlah seorang pelukis mumpuni dengan teknik yang sudah matang. Modal yang ia miliki sebagai fotografer adalah kepekaan terhadap cahaya dan warna-warna yang bisa ditimbulkan. Juga kedekatan terhadap obyek yang sudah ia akrabi selama puluhan tahun.

Risiko itu antara lain hilangnya kekuatan foto sebagai alat merekam realitas secara detail dan jujur. Hal itu antara lain terlihat pada foto Tedun, di mana latar belakang obyek, yang seharusnya pepohonan besar, berubah menjadi warna hitam pekat belaka. Ada juga kesan yang tak utuh karena warna-warna yang muncul secara tiba-tiba merusak komposisi foto itu.

Pengamat seni Jean Couteau menilai keberanian Rio memilih cara baru dalam menampilkan fotonya merupakan sebuah terobosan. “Kita diajak melampaui realitas dan menemukan konotasi baru di atasnya,” ujarnya. Meski agak sulit, menurut dia, penikmatan atas karya itu tak akan cukup bila menggunakan kaidah fotografi belaka atau, sebaliknya, dengan melihatnya sebagai sebuah lukisan.

Tapi, bagi pria Prancis yang sudah puluhan tahun tinggal di Bali itu, bagian paling menarik adalah tajuk pameran Transitory, yang berarti peralihan. Bisa jadi tajuk itu menunjukkan perubahan diri Rio dalam cara memandang Bali. Tapi, bukan tidak mungkin Rio melihat perubahan dalam ritual di Bali, di mana kesakralan mulai memudar. Transitory bahkan bisa diartikan sebagai pertanda sebuah kematian.

Soal itu, Rio tak menjawab tegas. Bagi dia, pameran itu lebih untuk menunjukkan jurus baru dalam memunculkan dirinya. “Kalau ada penilaian lain, saya persilakan saja,” ujarnya. Yang jelas, aktivitas melukis memberinya rasa nyaman untuk duduk berjam-jam menghadapi kanvas. Ini berbeda dengan cara kerja sebagai fotografer, yang menuntut kepekaan insting dan gerak cepat.

Adapun tentang kebudayaan Bali, yang menjadi obyek utama foto-fotonya, dia setuju bukanlah sesuatu yang statis. Selama bertahun-tahun memotret Bali, dia merasa kefanaan segala hal dalam kehidupan menjadi lebih nyata. “Saya telah berupaya menangkap momen-momen saat ‘wahyu’ tampak, momen manifestasi, atau bahkan mungkin semata-mata bukti kesementaraan,” katanya.

ROFIQI HASAN