foto

Kustantinah. TEMPO/ Seto Wardhana

Penelitian 2011: Susu Formula Nihil Sakazakii  

TEMPO.CO, Jakarta - Penelitian surveillance 2011 terhadap susu formula bayi tak menemukan cemaran mikroba Enterobacter Sakazakii. "Susu formula yang beredar (yang terdaftar) aman dikonsumsi," kata Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan, Kustantinah, dalam konferensi pers, Jumat, 8 Juli 2011.

Tim peneliti dari 3 lembaga--Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan, Badan Pengawasan dan Obat dan Makanan, serta Institut pertanian Bogor--tidak menemukan cemaran mikroba itu dalam ke 47 merek susu formula terdaftar yang beredar di 23 provinsi di 7 regional di Indonesia, yakni Sumatra, Jawa-Bali, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Maluku Utara, serta Papua.

Penelitian surveillance yang dimulai Maret hingga Juni 2011 merupakan tindak lanjut dari jalan tengah yang pernah diusulkan Menteri Kesehatan, BPOM, dan IPB di DPR Februari lalu. Mereka menolak menjalankan putusan Mahkamah Agung yang meminta hasil temuan peneliti IPB soal adanya cemaran Sakazakii dalam susu formula bayi yang beredar di masyarakat dibuka kepada publik.

Menteri Kesehatan Endang Rahayu menolak jika dikatakan bahwa dirinya menutup-nutupi hasil penelitian IPB. Ia mengaku tak tahu-menahu karena tidak ikut di dalam penelitian. "Jadi, kalau tetangga saya bikin sesuatu, saya disuruh bertanggung jawab, bagaimana? Kan susah," kata dia.

Rektor Institut Pertanian Bogor Herry Suhardiyanto juga berkukuh tak akan membuka hasil riset peneliti IPB yang dilansir di website IPB 008. Alasannya, penelitian itu adalah penelitian isolasi, bukan penelitian surveillance. Hasilnya tidak mewakili populasi karena tujuannya hanya untuk berburu bakteri. "Jika mengumumkan merek susu, peneliti melanggar hati nurani dan etika penelitian," ucapnya.

Meski merek susu tak bisa diumumkan, Herry mengungkapkan bahwa hasil riset peneliti IPB sebenarnya telah berkontribusi bagi dunia kesehatan. "Penelitian pada 2003-2004 berkontribusi dibuatnya ketentuan bahwa susu formula bayi harus bebas bakteri Enterobacter Sakazakii," katanya.

MARTHA THERTINA