TEMPO/Aris Andrianto
Topik
Pemerintah Prioritaskan Investasi Energi Baru Terbarukan
TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mulai serius soal investasi di sektor energi baru dan terbarukan. Pengembangan energi itu dibutuhkan sebagai pemasok kebutuhan energi alternatif bagi masyarakat di masa mendatang.
Seperti diketahui, Kementerian Energi memiliki visi Energi Baru Terbarukan mencapai porsi 25 persen pada tahun 2025. Hal tersebut guna mengantisipasi kebutuhan energi yang semakin meningkat dan cadangan energi fosil, seperti minyak dan gas yang kian terbatas.
Saat ini porsi energi baru hanya 3 persen di bauran energi. Primadona pemasok kebutuhan energi dalam negeri pun masih dikuasai oleh minyak sebesar 42 persen, kemudian disusul oleh batu bara 34 persen, dan gas 21 persen.
Dalam visi 25-25, bauran energi akan terdiri dari energi baru terbarukan seperti tenaga panas bumi, surya, tenaga air, dan lainnya akan memainkan porsi sebanyak 25 persen atau posisi kedua pemasok energi terbesar setelah minyak bumi yang ditargetkan hanya memiliki porsi sebanyak 30 persen di 2025. Disusul oleh gas dengan porsi 23 persen dan batu bara sebanyak 22 persen.
Pelaksana Harian Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Kementerian Energi, Kardaya Warnika, memaparkan sesuai dengan masterplan percepatan pembangunan, setidaknya dibutuhkan investasi sebesar Rp 134,6 triliun. Dana tersebut untuk mengembangkan energi baru terbarukan hingga 15 tahun ke depan.
"Dana itu untuk investasi infrastruktur maupun untuk pembangkitnya," ujar Kardaya, Rabu, 13 Juli 2011. Secara rinci, Dana tersebut akan dialokasikan untuk pengembangan energi baru terbarukan di lima koridor yaitu Sumatera Rp 25,06 triliun, Jawa Rp 86,3 triliun, Sulawesi Rp 15,77 triliun, Bali-Nusa Tenggara 2,64 triliun serta Papua-Maluku Rp 4,83 triliun.
Potensi energi baru di Indonesia sangat besar. Panas bumi misalnya, Indonesia merupakan negara dengan potensi panas bumi terbesar di dunia dengan potensi sebanyak 29.038 Megawatt. Sayangnya yang baru dioptimalkan hanya sebanyak 4 persen atau 1.189 Megawatt. Itu belum termasuk potensi energi baru lainnya, seperti tenaga air, tenaga surya, dan tenaga angin.
GUSTIDHA BUDIARTIE





