foto

TEMPO/ Nickmatulhuda

Atlet Silat Pamekasan Keracunan Nasi Basi  

TEMPO.CO, Kediri - Dua atlet pencak silat asal Pamekasan mengalami keracunan setelah memakan basi dalam Pekan Olah Raga Propinsi (Porprov) Jawa Timur di Kediri. Selain berjamur, makanan yang diberikan panitia jauh di bawah standar.

Insiden keracunan ini dialami para atlet pencak silat saat menginap di Wisma Betlehem, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, siang tadi. Khairil Anwar, official tim pencak silat kontingen Pamekasan mengatakan, dua atletnya mengalami mual, pusing, dan diare setelah mengkonsumsi makanan dari panitia.



 



Ketika diperiksa, dia menemukan nasi yang sudah basi dan berjamur di dalam kotak makanan atlet. "Dua atlet saya jatuh sakit," kata Khairil, Minggu, 17 Juli 2011.

Menurut dia, temuan nasi basi ini sudah kerap terjadi sejak berada di Kediri dua hari lalu. Selain kontingen Pamekasan, sejumlah atlet daerah lain juga mengeluhkan buruknya makanan. Kondisi ini baru mendapat perhatian dari panitia setelah dua atlet Pamekasan jatuh sakit.

Ahmad Sidik, salah satu korban keracunan mengaku baru saja menyantap paket makanan sayur sup dan telur yang dikirimkan panitia. Usai memakan, perutnya terasa mual dan kepalanya pusing. Beberapa kali dia harus bolak-balik ke toilet. "Saya lemas dan tak punya tenaga saat bertanding tadi," katanya saat dirawat di penginapan.

Panitia pelaksana cabang pencak silat Herman Rifai mengakui kelalaian itu. Menurut dia perusahaan pemenang tender, yakni Mirasa 2 yang berkantor di Kediri telah mengirimkan makanan basi kepada atlet. Bahkan dari pengamatannya, makanan itu jauh di bawah standar atlet. "Masak atlet silat diberi sup, telur, dan kerupuk," katanya.

Hal ini menurutnya patut dipertanyakan mengingat nilai ekonomi makanan per kotak telah ditetapkan Rp 20 ribu. Sehingga setiap atlet mendapat jatah makan senilai Rp 60 ribu untuk tiga kali makan dalam sehari. Terdapat 177 atlet dari 32 kontingen yang mengikuti cabang olah raga ini.

Ketua Harian KONI Jawa Timur sekaligus Pengurus Besar (PB) Porprov Jatim Dhimam Abror yang langsung meninjau kondisi para atlet pencak memberikan sanksi kepada Mirasa 2. Penyedia makanan itu diminta menghentikan pengiriman makan kepada atlet selama dua hari dan memberi ganti rugi uang kepada mereka. "Sesuai klausul, setiap atlet terima enam puluh ribu per hari selama dua hari," kata Abror.

Meski telah melakukan kesalahan, perusahaan itu tidak akan diganti. Sebab membutuhkan waktu panjang untuk mengulang proses tender makanan.

Abror juga membantah makanan yang diberikan di bawah standar. Seluruh makanan telah mendapatkan rekomendasi dokter dan ahli gizi untuk memenuhi karbohidrat atlet. "Kalau soal kuantitas itu sangat subyektif," katanya.



 



HARI TRI WASONO